Pesona Seni Ngawi di Taman Budaya Jatim

SURABAYA: Kejayaan kerajaan besar Majapahit konon berakhir di Ngawi. Raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V, dipercaya menghilang di Alas Ketonggo yang berada di wilayah Ngawi sekarang. Bagaimana kisah sejarah ini dikemas dalam sebuah pertunjukan kesenian, dilakukan oleh Pemkab Ngawi dalam acara Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, Jumat, 21 Februari 2014, pukul 19.00.

“Meskipun ini acara rutin di TBJT namun tetap menarik karena selalu mengedepankan potensi seni budaya dan pariwisata masing-masing daerah di Jawa Timur sehingga dapat dikenal luas oleh masyarakat,” ujar DR. H. Jarianto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur. Ditambahkannya, “potensi dari Kabupaten Ngawi yang kali ini mendapat giliran pantas diapresiasi sebab banyak kesenian di Ngawi yang bagus, unik serta perlu dipromosikan sebagai atraksi wisata Jawa Timur.”

GSBD kali ini bertema “Biwaraning Jagad Awi” dibuka sejak Jumat sore dan berakhir Sabtu tengah malam (22/2). Acara dibuka dengan Tari Tolak Sengkala atau Kalis Rubedo, yang merupakan ungkapan tolak balak. Tarian ini menghadirkan properti sapu lidi dan tampah yang masing-masing punya makna simbolis. Sapu Lidi dimaksudkan untuk menggambarkan sarana membersihkan segala perbuatan dan sifat tercela. Sedangkan makna Tampah menggambarkan wadah untuk mencapai kesepakatan bersama di masyarakat serta kebulatan tekad untuk mencapai tujuan.

Setelah penyajian lagu-lagu daerah Ngawi, disuguhkan pertunjukan utama hari Jumat malam, berupa fragmen berjudul “Palenggahan Agung Srigati.“ Pertunjukan ini mengisahkan Prabu Brawijaya V yang sedih karena Majapahit sedang diserang oleh Prabu Girindrawardana dari Kediri. Kemudian Prabu Brawijaya mengasingkan diri ke Alas Ketonggo di lereng Gunung Lawu, dan di sinilah Raja Majapahit terakhir itu melepaskan semua atribut kerajaannya dan dipercaya mukso alias menghilang.

Hari Sabtu pagi, diisi dengan acara Lomba Mewarnai, siang harinya digelar Reog Ngawi, dan malam harinya ditutup dengan Langen Tayub yang berlangsung hingga tengah malam. Tayub adalah tari pergaulan yang pada mulanya berkaitan sebagai ungkapan rasa syukur sehabis panen dan erat kaitannya dengan semangat gotongroyong di masyarakat.

Selama acara berlangsung, juga disajikan Pameran Produk Unggulan Kabupaten Ngawi berupa seni kerajinan, bazaar kuliner khas, dan pemutaran informasi potensi seni budaya dan pariwisata. (*)

Informasi:
Taman Budaya Jawa Timur, telp: 031 534 2128

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: