Damarkurung Sudah Jadi Lagu dan Tari

Mengarak Damar Kurung Gresik - 2SURABAYA: Ikon Kabupaten Gresik berupa Damarkurung bukan lagi sebatas lampion hias dan karya seni rupa belaka, namun sudah berkembang menjadi karya lagu dan tari. Bahkan, Masmundari, pembuat Damarkurung yang legendaris itu, juga sudah dijadikan sumber inspirasi bagi karya tari yang disebut Tari Masmundari. Berbagai sajian kesenian khas Gresik ini dapat disaksikan di Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Gentengkali 85 Surabaya dalam acara Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) Gresik, Jum’at-Sabtu (21-22 Agustus).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, DR. Jarianto, M.Si, mengatakan bahwa Kabupaten Gresik merupakan salah satu asset budaya yang dimiliki Jawa Timur dalam hal kesenian Islami. Maka tidak heran dalam GSBD kali ini juga ditampilkan kesenian bernafas Islami seperti Tari Giri Sholawat, yang bersumber dari ajaran Sunan Giri, dimana makamnya di Gresik menjadi objek wisata religi yang selalu ramai pengunjung.

Disamping itu, sebagaimana di Surabaya dan Sidoarjo, di Gresik juga ada upacara adat yang bernama Manten Loro Pangkon. Tradisi penganten adat Jawa ini berkembang di daerah Gresik Selatan. Loro pangkon merupakan akronim dari Bahasa Jawa yang bermakna loro sakdhurunge kelakon (sakit sebelum terlaksana).

Loro pangkon diperagakan oleh dua orang yang membawa jago-jagoan dengan dihias sedemikian rupa dan dilengkapi sejumlah sesaji beras kuning berwadah bokor. Konsep garap sajian tradisi ini dalam bentuk seni pertunjukkan mengadopsi seni ludruk yang syarat pesan dengan gaya banyolan sebagai bentuk penyampaian.

Acara terakhir pada Sabtu malam dalam rangkaian GSBD ini adalah pergelaran Wayang Kulit gaya Jawa Timuran dengan lakon Luru Kamukten bersama dalang Ki Puguh Prasetyo dari Kabupaten Gresik. ¬Intisari ceritanya, Sang Kertadipa Kertanodi yang pandai dan menguasai berbagai ilmu duniawi hingga lupa diri. Keangkuhannya menyebabkan terjerembab dalam kubang kemungkaran dan kemiskinan. Dari kearifan Sang Arjuna Dipa putra Maspati sebagai penyambutan pangestu, terungkaplah bahwa becik ketitik olo ketoro.

Sejulah sajian lain dalam GSBD dengan tema “Kharisma Bumi Wali” ini adalah pertunjukan Jaran Kepang, yang meskipun kesenian ini berasal dari etnis budaya Mataraman namun telah bermetamorfosa dengan Islam sebagai agama pendukungnya. Ada juga Terbang Banjari, yang mengiringi peninjauan stand pada saat menjelang pembukaan, serta Lomba Melukis untuk anak-anak.
Keterangan lebih lengkap dapat menghubungi Taman Budaya Jawa Timur, telp: 031 534 2128. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: