Drama Tari Lembu Suro dari Blitar

Jaranan Blitar SURABAYA: Mengapa Gunung Kelud sering meluapkan laharnya? Penyebabnya adalah, Lembu Suro marah karena ditimbun dalam lubang di lereng gunung itu. Lembu Suro ditipu, disuruh menggali sumur yang akhirnya mengubur dirinya sendiri. Padahal, Lembu Suro berhasil memenangkan sayembara berhadiah Puteri Kerajaan, namun kemenangannya tidak diakui oleh Raja karena Lembu Suro buruk rupa.

Begitulah intisari cerita Drama Tari berjudul “Lembu Suro” yang digelar di Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Gentengkali 85 Surabaya, dalam acara Gelar Seni Budaya Daerah ”Kawentaring Budaya Bumi Penataran” dari Kabupaten Blitar tanggal 23 Oktober malam. Acara ini berlangsung dua hari, menampilkan berbagai produk unggulan Kabupaten Blitar serta sejumlah acara kesenian lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) provinsi Jawa Timur, Dr. Jarianto, MSi, mengatakan bahwa acara ini merupakan etalase potensi seni budaya dan pariwisata Kabupaten Blitar. Inilah kesempatan bagi penggemar kesenian dari Blitar dapat menyaksikan pertunjukan yang menarik. Disamping itu, kesempatan ini juga dapat dimanfaatkan bagi warga asal Blitar yang tinggal di Surabaya untuk melepas kangen terhadap kota kelahirannya.

Hari kedua, Sabtu (24 Oktober) acara berlangsung sejak pagi hari, mulai dari Lomba Senam Sehat Ceria dengan peserta anak-anak usia PAUD dan Taman Kanak-kanak, pergelaran Jaranan Panggung, pemutaran informasi produk unggulan dan penayangan selayang pandang Kabupaten Blitar, serta dipuncaki dengan pergelaran Wayang Kulit dalang Ki Bambang Tri Bawono dengan lakon “Purbowangi”.

Dalam rangkaian acara GSBD tersebut juga disajikan Tari Jamong dan Tari Jaranan Thongkir. Jamong adalah salah satu gendhing yang sangat populer di kalangan Tayuban Jawa Timuran, termasuk di Kabupaten Blitar. Gendhing Jamong ini sangat mewarnai iringan tari garapan baru yang bernuansa tandhakan. Dengan mencoba menafsirkan dinamika serta ritme baik vocabulair gerak maupun iringan, Jamong digarap dengan sebagai tarian penyambutan dalam bentuk jenis Tari Kerakyatan Tradisional.

Sedangkan sejarah terciptanya kesenian Jaranan di Kabupaten Blitar berkaitan dengan Legenda Babad Lodoyo. Ketika itu Pangeran Prabu dari Kartasura sekitar tahun 1000-an dibuang di Hutan Lodoyo. Banyak ragam kesenian Jaranan. Kali ini Jaranan tidak diiringi dengan kethuk, kenong, kempul, namun dengan Thongkir atau Gamelan Bambu, sehingga memiliki kesan unik apabila dibandingkan dengan kesenian Jaranan yang lain.

Sedangkan Wayang Kulit dengan lakon Purbowangi mengisahkan tentang Purbawangi, seorang gadis cantik jelita, penjelmaan wahyu kemuliaan dan ketentraman. Purbawangi adalah anugrah yang Kuasa untuk kesejahteraan umat manusia. Banyak para lelaki ingi menikahinya, tetapi sang Dewi mempunyai sarat untuk dapat menikahinya, dan hanya Ksatria Pandawa yang dapat memenuhi sarat Sang Dewi. (*)

Info: Taman Budaya Jawa Timur, telp: 031 534 2128

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: