Asri Nugroho Nus Pakurimba

asri nugroho - 2Belasan tahun menjadi tukang gambar poster bioskop, Asri Nugroho akhirnya berhasil menapakkan dirinya sebagai pelukis yang mapan di negeri ini. Lelaki kelahiran Surabaya 4 Juli 1952 ini telah melewati proses teramat panjang, sampai akhirnya memenangi penghargaan bergengsi “The Philip Morris Group of Companies” Indonesia Art Award (1994).

Sudah sejak lama anak seorang tentara ini tak hendak menyerahkan nasibnya hanya menjadi tukang poster bioskop. di sela-sela kesibukannya, dia memanfaatkan peluang untuk menawarkan lukisan hasil ciptaannya. Baru tahun 1989 dalam perjalanannya ke Bali bersama Setyoko, teman sesama pelukis, Asri Nugroho berhasil menjual sebuah lukisan kepada pemilik Galeri Barwo. Sejak itulah, jebolan Sekolah Menengah Atas Negeri Nganjuk tahun 1970 ini setiap dua bulan sekali berkunjung ke Bali untuk menawarkan lukisannya, hingga membuahkan harga pantas dan menemukan jati diri sebagai seniman.

Penghargaannya dalam kompetisi memberanikan diri menggelar pameran tunggal tahun 1987, di PPIA Surabaya dan Edmond Galeri Jakarta (1992). Sejak itu lukisannya banyak yang terjual dan namanya makin dikenal. Banyak lukisannya yang dikoleksi oleh orang-orang Bimantara, Singapura, dan Hongkong. Bonusnya, dia berkesempatan diajak mengunjungi Amsterdam dan beberapa negara Eropa dan Asia.

Tahun 1999 Asri Nugroho berpameran tunggal di Christy Gallery, Singapura, sedangkan dua tahun sebelumnya berpameran bersama empat pelukis Indonesia bertajuk Pameran Citra Realis di Japan Foundations Forum, Tokyo. Tahun 1995 dia berpameran dengan tajuk Asian Excellent, di Korea Selatan. Sejak itu pameran bergengsi diikutinya, seperti Bienalle X di TIM Jakarta (1996), Pameran The Mutation di Jepang (1997), Bali Biennale (2005), Asian International Exhibition (Filipina), dan sepanjang tahun 2007 pameran di beberapa tempat dan tinggal selama 6 bulan di Korea. Tahun yang sama pameran lagi di Singapura.

Sementara pameran tunggalnya tercatat di PPIA, Edwin’s Gallery Jakarta, DKS, Taman Budaya Solo, Christie Gallery Singapura, Bentara Budaya Yogyakarta dan Galeri Nasional Indonesia. Sadar bahwa dirinya tidak pernah mengenyam pendidikan formal seni rupa, Asri Nuroho mengaku tak henti-hentinya terus menerus belajar, belajar dan belajar. (hn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: