Parso Adiyanto

ParsoDikenal sebagai pendekar silat, sesungguhnya Drs. Parso Adiyanto, MM. MBA sudah berkesenian sejak anak-anak dengan mengikuti ayahnya bernama Sakdolah dalam kesenian Sandur “Cahyo Utomo” yang diwariskan dari kakeknya bernama Abdul Bari di Pamekasan. Belajar pencak silat dari ayahnya juga merupakan kegiatan yang melengkapi kegiatan sehari-hari.
Ketika masih belajar di SMP, lelaki yang lahir di Pamekasan 9 April 1957 ini sudah memerankan sebagai tokoh travesti dan sebagai penari ronding. Aktor terbaik Festival Teater Tradisi tahun 1994 ini adalah seniman yang menguasai tari, karawitan maupun seni pencak silat.

Perjalanannya mengikuti jejak panggung tradisi membawanya berlabuh ke Sekolah Pendidikan Guru tahun 1976 yang saat itu masih sangat intens dengan pendidikan keseniannya. Diluar aktivitas sekolah ia memperdalam seni pencak silat melalui Pencak Silat Angkatan Muda Rasio (PAMUR). Pada tahun 1981 ia memperdalam kesenian di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya bidang studi Seni Tari. Berbagai wacana/pengetahunan tentang koreografi dan konsep kesenian mendorongnya untuk lebih dalam melakukan kajian dan penggarapan seni tradisi antara lain Andongan dan Tandhek Pajuan yang berangkat dari kesenian Tandhakan Madura, Topeng Gethak yang merekontruksi tari topeng pada kesenian Sandur-Pamekasan.

Pemuda Pelopor tingkat Nasional Bidang Kebudayaan (1992) ini sangat peduli terhadap pengembangan seni pencak silat dengan cara menata format seni pencak silat sebagai terobosan pengembangan bentuk karya seni yang bertumpu pada jurus-jurus beladiri. Hasilnya, prestasi seni pencak silat Jawa Timur di tingkat nasional (1988) dan seni pencak silat Indonesia di tingkat internasional (1989) ke Thailand (1991) dan Malaysia (1995).

Melalui perjalanan berkesenian di lingkungan kesenian Sandur, Tari Topeng Gethak dan Seni Pencak Silat, mantan staf pengajar STKWS ini telah menemukan konsep dasar tari Madura, antara lain : Solah: atandheng, bebetheg, sodheg, arasa agih (merasakan), teges dan polah. Tak terhitung pensiunan PNS Disbudpar ini menjadi juri berbagai festival (musik, tari, teater), penata tari, penata musik serta penata silat di berbagai kejuaraan dunia (1986-2003).
Kini Parso meikmati masa purna tugasnya di Jl. Kwoka F 14/15 Perum Tidar Permai Kota Malang. (tri, hn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: