Yayasan Putera Surabaya alias PUSURA

PusuraMenyebut PUSURA, barangkali langsung teringat nama sebuah klinik medis yang berada di pusat kota Surabaya. Padahal, Pusura adalah akronim dari Putera Surabaya, sebuah organisasi sosial yang sudah lahir sejak zaman penjajahan Belanda, tepatnya tanggal 26 September 1936. Maklum, di halaman kantor Pusura di Jalan Yos Sudarso itu sebagian memang digunakan untuk klinik kesehatan.

Dalam konteks masa penjajahan, kegiatan sosial itu hanya “kedok” untuk mengelabui penjajah Belanda. Yang sebenarnya adalah kegiatan politik terselubung untuk menanamkan semangat perjuangan warga kota Surabaya ikut merebut kemerdekaan. Untuk itulah para pendiri Pusura menyelenggarakan kegiatan pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa. Apalagi para pendiri organisasi yang semula bernama “Poesoera” ini, umumnya tokoh masyarakat yang berlatarbelakang politisi, cendekiawan, pendidik dan ulama.

Sebagaimana penelusuran yang dilakukan Yousri Noer Raja Agam, para pendiri itu antara lain, empat orang dokter pejuang, yakni: Dr. Sutomo, Dr. Soewandi, Dr. Yahya dan Dr. Samsi. Disamping itu ada ulama yang juga pejuang kemerdekaan, yakni KH Mas Mansur, H. Nawawi Amin, Koesnan Effendi, H. Manan Edris dan H. Hoesein. Foto para pendiri Pusura ini, sekarang dipajang di kantor Pusura yang terletak di Jalan Yos Sudarso 9 Surabaya.

Di masa perjuangan itulah kegiatan sosial dikembangkan Pusura melalui “sinoman”. Selain mengurusi warga yang meninggal dunia, sinoman juga tempat berhimpun warga yang melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun saat kegiatan perjuangan kemerdekaan memuncak, aktivitas Pusura menurun, bahkan sempat terhenti. Barulah pada tahun 1950 nama Pusura dihidupkan lagi.

Nama Pusura juga pernah lekat dengan sekumpulan preman, namun mereka kemudian dapat diberikan wadah baru bernama Generasi Muda Arek-Arek Surabaya (Gemaas). Dengan diaktifkannya kembali kepengurusan Pusura, citra Pusura sebagai “sarang preman” berhasil dihapus. Kegiatan yang bersifat sosial ditingkatkan, termasuk mengembangkan Poliklinik Pusura di beberapa tempat. Tidak hanya itu, kegiatan bakti sosial, donor darah, bantuan untuk penderita penyakit kusta dan anak jalanan juga diselenggarakan terus-menerus. Pusura juga menyelenggarakan pengajian rutin ibu-ibu dan pemuda. Di samping itu, dibuka pula Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pusura yang malayani masyarakat umum. Pada saat tertentu diselenggarakan seminar dan diskusi membahas persolan yang aktual.

Belakangan, Pusura memang tidak seaktif dulu, terutama sejak Cak Kadaruslan yang tercatat sebagai ketua Pusura meninggal dunia. (hn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: