Pasamuan Mahapralaya – 1000 Tahun Untuk Kebangkitan Bangsa

02
Puluhan mahasiswa dari berbagai daerah dan sejumlah seniman mengikuti acara Kemah Budaya 1000 Tahun Kebangkitan Bangsa di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman Trawas dan Candi Jalatunda. Acara ini dimaksudkan untuk memperingati kekalahan Raja Darmawangsa Teguh atas serangan Raja Wurawari yang didukung Sriwijaya, sebagaimana tertuang dalam Prasasti Pucangan tahun 1006 M (ada yang membaca tahun 1016 M). Ini memang peristiwa kehancuran, seperti kiamat, sehingga Airlangga yang waktu itu masih muda harus menyelamatkan diri, masuk hutan, berkelana bersama patih setianya, Narotama. Tiga tahun kemudian Airlangga membangun kerajaan Kahuripan, dengan istana baru di Wwatan Mas dan menjadi raja sebagai penerus takhta mertuanya, dengan wangsa baru, Isyana.

Ada yang kurang sependapat, mengapa justru yang diperingati adalah peristiwa kehancuran tersebut? Mengapa bukan kebangkitan Wangsa Isyana yang membawa harapan baru? Memang ini soal pilihan. Toh peristiwa bencana tsunami Aceh diperingati setiap tahun, juga peristiwa Bom Bali dan yang masih baru adalah peringatan 200 Tahun (meletusnya) Tambora. Bahkan peristiwa kejatuhan bom di Nagasaki dan Hirosima juga diperingati bangsa Jepang.
11
Meskipun, sebetulnya peristiwa ini tidak ada hubungannya dengan keberadaan Candi Jalatunda, yang sudah ada lebih dulu, yaitu tahun 997 M, dan itu sebelum Airlangga. Yang barangkali agak selaras dengan “peristiwa kesedihan” Mahapralaya ini adalah Prasasti Gempeng yang terpahat besar di dinding Jalatunda. Gempeng artinya kesedihan atau gundah gulana.

Begitulah, terlepas dari perbedaan pendapat tersebut di atas, toh akhirnya nama acara Kemah Budaya Mahapralaya lantas diganti Kemah Budaya 1000 Tahun Kebangkitan Bangsa. Budayawan Taufik Rahzen, yang menggagas dan menjadi narasumber acara ini lantas mengambil “jalan tengah” dengan menyebut “Pasamuan Mahapralaya – 1000 Tahun Untuk Kebangkitan Bangsa”.

Acara yang diselenggarakan oleh Disbudpar Jatim ini dimulai di PPLH Seloliman, Sabtu (23/5), dengan narasumber Taufik Rahzen dan Hanan Pamungkas (arkeolog Unesa, ketua IAAI Komda Jatim), pameran wayang beber sepanjang 60 meter koleksi Taufik Rahzen. Peserta kemudian Minggu pagi peserta berjalan kaki menembus hutan menuju Candi Jalatunda, pergelaran sentradari Arjuna Wiwaha dari mahasiswa STKW Surabaya, dan penandatanganan Prasasti Pasamuan Mahapralaya – 1000 Tahun Untuk Kebangkitan Bangsa. (hn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: