Industri Kreatif Bukan Menjual Murah Tradisi

dari-kiri-sunu-catur-budiyono-moderator-primadi-tabrani-jakob-sumardjo-dan-djoko-saryono

dari-kiri-sunu-catur-budiyono-moderator-primadi-tabrani-jakob-sumardjo-dan-djoko-saryono


SURABAYA: Banyak sekali artefak seni tradisi kita yang bisa dimanfaatkan untuk industri kreatif. Namun industri kreatif seyogyanya bukanlah sekedar menjual tradisi, apalagi menjual murahkan tradisi. Bila begini, maka lambat atau cepat kita akan kehilangan jatidiri kita sebagai bangsa dan akan melemahkan ketahanan nasional bangsa. Industri kreatif seyogyanya mentransformasi artefak seni tradisi mejadi industri kreatip yang memiliki nilai tambah, berjatidiri, beridentitas, bermutu dan karenaya nilai jualnya meningkat.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Primadi Tabrani, staf pengajar FSRD Institut Teknologi Bandung dalam seminar nasional budaya nusantara (Senayantra) yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Adibuana (Unipa) Surabaya, Kamis, 28 Mei 2015. Dalam acara yang berlangsung di Gedung Pasca Sarjana Lantai V itu juga hadir sebagai narasumber, Prof. Drs. Jakob Soemardjo (guru besar ITB Bandung) dan Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd (guru besar Unversitas Negeri Malang). Seminar ini merupakan rangkaian peringatan Dies Natalis Unipa ke-44.

Selanjutnya, Primadi Tabrani mengatakan, dalam fenomena baru (industri keatif) yang ’tiba tiba’ muncul di Indonesia ada gejala gejala umum yang menarik untuk diteliti. Pertama, manusia negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, kreatifitas bangsanya secara umum relatip masih kuat dibanding barat yang lebih rasional dengan iptek yang tinggi. ”Kita ipteknya masih biasa biasa saja, oleh sebab itu dalam memecahkan kesulitan hidup sehari-hari, kita mesti banyak akal alias kreatif. Anak desa, umumnya lebih kreatif dari anak kota, apalagi kota metropolitan. Anak kota cukup beli mainan buatan pabrik, anak desa asyik buat sendiri mainannya, ya jadi kreatif,” ujar guru besar seni rupa kelahiran Pamekasan, Madura ini.

Kedua, ketika suatu masyarakat kreatif tiba tiba mengikuti suatu fenomena baru (industri kreatif), prestasi tiba-tiba mencuat, terkadang mendunia, namun kemudian kurva prestasi mendatar bahkan menurun, dan dalam keadaan ini ’terkejar’ oleh negara lain, yang mungkin inspirasinya dari kita, atau bahkan ’meniru’ atau ’mencuri’ dari kita.
Primadi mengingatkan, kreativitas bisa ’mandeg’ karena kita merasa puas karena sudah unggul. Dalam perjalanan waktu generasi pelopor akan tiada, dan kita kehilangan generasi penerus yang kreatif, karena pembinaan kreativitas kurang diperhatikan di sekolahan kita. Artinya kita harus selalu punya kesempatan untuk memanfaatkan kreativitas bangsa, dan ini berarti pendidikan sejak usia dini kita harus mampu menghasilkan generasi yang keatif dimasa depan, sebab bangsa yang tidak kreatip akan dilindas oleh sejarah.

Bila kita ingin industri kreatip kita tidak mundur, mandeg dan kalah bersaing dengan negara lain. Bila kita ingin industri kreatif prestasinya berkesinambungan dan terus meningkat dengan kreasi kreasi baru dan bukan semata memproduksi ulang produk unggulan, maka beberapa hal perlu dilakukan.

Peningkatan mutu industri kreatif tak cukup hanya dengan memberikan sentuhan iptek dari barat melalui lokakarya, seminar (tentang desain, pengetahuan bahan, teknologi, pemasaran dsb). Kreativitas bangsa memang merupakan modal yang hebat, tapi ia harus diberi kesempatan berkembang, dipupuk, diperlihara, dibina, melalui pendidikan sejak usia dini. Ini akan menjamin stok manusia kreatip yang diperlukan industri kreatif. ”Sudah siapkah dunia pendidikan kita sejak usia dini sampai perguruan tinggi untuk melaksanakan hal tsb? Tak ada pilihan lain, kata harus mampu siap,” tegasnya.
Sementara itu Prof. Jakob Sumadjo mengemukakan, kalau unsur lokal yang primordial mau digali dan dihidupkan lagi sebagai alternatif cara berpikir modern Barat, maka yang dapat dimunculkan adalah filsafat dasarnya, terdiri dari 4 pola cara berpikir lokal, atau merupakan campuran dari keempat cara berpikir tersebut.

Budaya lokal sudah tak dikenal lagi aspek filsofisnya. Yang kita kenal hanya bentuk dan wujud nampaknya, yang sebenarnya produk yang memang dibutuhkan pada zamannya. Kini zaman sudah berubah akibat globalisasi, sehingga produk-produk budaya lama yang sudah ribuan atau ratusan tahun yang lalu merupakan produk-produk aktual yang memang di butuhkan masyarakatnya, maka kita, di zaman globalisasi mutakhir ini, hanya dapat mengangkat kembali cara berpikirnya atau filosofinya yang dapat diajakukan untuk zaman kita sekarang ini.

Dalam paparannya yang berjudul “Industri Kreatif Dan Kewirausahaan Kreatif Berbasis Bahasa dan Seni”, Prof. Djoko Saryono mengemukakan, pengembangan kewirausahaan kreatif berbasis bahasa dan seni ini menjadi tantangan dan peluang baru para pekerja bahasa dan seni, ahli bahasa dan seni, dan seniman dan bahasawan Indonesia di samping menjadi tantangan dan peluang para wirausahawan Indonesia. Berkembangnya kewirausahaan kreatif berbasis bahasa dan seni akan memberi sumbangsih berarti bagi ekonomi dan industri kreatif Indonesia, yang sekarang sedang digalakkan dan dikelola secara serius oleh pemerintah. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: