Legenda Reyog Kendang Tulungagung

IMG_6041SURABAYA: Reyog Kendang Tulungagung sangat berbeda dengan Reyog Ponorogo. Disamping tanpa Dhadhak Merak, ciri khasnya adalah penggunaan instrumen kendang yang jumlahnya bisa puluhan. Dan ternyata, asal usul kesenian ini ada hubungannya dengan letusan Gunung Kelud. Penasaran? Saksikan di Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Gentengkali 85 Surabaya, hari Jum’at malam (12/6).

Penampilan kesenian asli Tulungagung ini merupakan bagian dari Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) Tulungagung dengan tema ”Bhumi Wajak Gumilang” yang berlangsung hingga Sabtu (13/6). “Meski ini acara rutin di Taman Budaya, namun tetap mengedepankan potensi seni budaya dan pariwisata daerah yang bersangkutan,” ujar DR. H. Jarianto, M.Si, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim.

Legenda Reyog Kendang Tulungagung adalah kisah terjadinya Seni Reyog Kendang. Alkisah, Prabu Lembusura mengutus adiknya, Jothosura, untuk melamar Dewi Kilisuci. Tidak disangka justru Dewi Kilisuci memilih Jothosura menjadi suaminya, dengan syarat Jothosura harus mampu mengalahkan Lembusura. Hal ini sebenarnya hanya merupakan tipu muslihat saja agar dapat menolak lamaran Lembusura tanpa menimbulkan peperangan. Ketika Jothosura berhasil mengalahkan Lembusura, Kilisuci kembali berkelit dengan meminta satu syarat lagi, yaitu agar dibuatkan sumur di puncak Gunung Kelud. Ketika Jothosura tengah berada di lubang sumur, Kilisuci memerintahkan prajuritnya untuk mengubur Jothosura. Atas tindakan Kilisuci tersebut Jothosura bersumpah suatu saat akan meletuskan Gunung Kelud yang akan membuat Tulungagung jadi kedung karena dipenuhi oleh lahar dan abu Gunung Kelud.

Legenda inilah yang kemudian diabadikan dengan kesenian bernama Reyog Kendang yang tumbuh dan berkembang di Tulungagung sehingga telah ditetapkan sebagai salah satu ikon daerah. Dalam bentuk yang lain, ada juga yang dinamakan Tari Lenggang Reyog Tulungagung yang disajikan sebagai pembuka acara GSBD ini.

Selain Reyog Kendang, kesenian khas Tulungagung lainnya adalah Sentherewe Rinenggo. Pertunjukan kesenian rakyat ini merupakan salah satu bentuk seni Jaranan yang dikemas sedemikian rupa dalam hal gerak, musik dan rias busananya. Jaranan Senterewe ini disajikan hari Sabtu siang, mulai pukul 12.00.

GSBD ini dimulai sejak Jumat siang dengan pameran produk unggulan, potensi seni budaya dan pariwisata Kabupaten Tulungagung. Sabtu pagi, digelar Lomba Merias Wajah Kreasi Peserta Umum, dan pada penghujung malam dihadirkan pergelaran ketoprak dengan lakon “ Mendung Sumilak Bumi Bonorowo “ sebagai penutup acara.

Informasi lebih lanjut, kontak Taman Budaya Jawa Timur, telp: 031 534 2128 (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: