Sandur Bojonegoro Wakil Jatim Festival Teater Tradisi

02SURABAYA: Kelompok Sandur dari Bojonegoro mewakili provinsi Jawa Timur mengikuti Festival Teater Tradisi tingkat nasional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (14/6). Sebagian besar pendukung kelompok ini berasal dari siswa SMKN 2 Bojonegoro yang menjadi pemenang dalam festival teater tingkat SMA Pekan Seni Pelajar (PSP) di Banyuwangi belum lama ini. Dan khusus untuk festival di Jakarta kali ini diperkuat oleh pemain profesional dari Teater Awu dan kelompok Sandur Kembang Desa, Ledok Kulon, Bojonegoro.

Hanya dibatasi durasi 20 menit, cerita yang dibawakan berjudul “Tanah Adat” yang ditulis oleh Agus Budiono, S.Pd, dan disutradarai Burhanudin, S.Pd, dengan pemain utama Intan Defi Lutfiyanti (Cawik) dan M. Toha Firman Syah (Pethak), Hendro Lukito, S.Pd (Balong), Muhammad Naufal (Wak Tangsil), Agus Budiono (Kang Germo) dan Ika Wahyuni Tresnawati (Dukun Rias).

Pertunjukan ini bercerita soal rencana pengeboran minyak yang akan menggusur desa dan tanah adatnya. Salah seorang tokoh masyarakat bernama Wak Tangsil mendapatkan kepercayaan untuk menjadi perantara antara pihak perusahaan dan warga desa. Tetapi Wak Tangsil bertindak diluar batas kewenangannya, akhirnya justru membuat warga resah.
01
Setelah mendapat persetujuan dari Kang Germo, yaitu seorang tokoh adat, sekaligus pemimpin kesenian tradisonal Sandur, warga desa yang dipimpin seorang pemuda bernama Pethak, bermaksud melakukan aksi unjuk rasa dengan menggelar seni Sandur di atas tanah adat yang hendak digunakan sebagai wilayah operasional pengeboran migas. Karena menurut masyarakat desa di wilayah Kabupaten Bojonegoro, seni tradisional Sandur lahir sebagai bentuk rasa syukur terhadap keberadaan tanah yang menghidupi manusia, sehingga tanah harus dihormati dan diperlakukan dengan mulia.

Tiba-tiba datanglah Balong, pegawai atau wakil dari perusahaan migas yang akan beroperasi di desa itu. Balong mengabarkan kepada warga desa, bahwa Wak Tangsil telah melakukan manipulasi dan penggelapan dana pembebasan lahan, sehingga pihak perusahaan memecat dan melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Selain itu Balong juga mengabarkan bahwa perusahaan tidak akan menggunakan tanah adat untuk wilayah eksplorasi dan eksploitasi migas karena tidak mendapat izin lingkungan. Warga menyambut kabar itu dengan suka cita dan meluapkannya dengan menyanyikan tembang-tembang Sandur.
03
Hari Rabu (10/6) mereka latihan di kompleks UPT Dikbangkes Sekolah Dispendik Jatim, yang kemudian dievaluasi oleh pengamat dan Kepala UPT Dikbangkes Selolah, Effie Wijayanti dan Nunung Puspaningtyas. Kamis ini masih dilatihan latihan terakhir di Bojonegoro, sebelum keesokan harinya berangkat ke Jakarta. (hn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: