Wayang Topeng Malang dan Ludruk di TBJT

IMG_9894SURABAYA: Setelah libur sebulan selama puasa ramadan, seni pertunjukan wayang topeng khas Malang dan ludruk akan mengisi program Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) di Taman Budaya Jatim (TBJT), Jl. Gentengkali 85 Surabaya, Jumat dan Sabtu (7-8 Agustus) dengan tema ”Malang Five Paradise”. Lakon yang dibawakan dalam Wayang Topeng adalah “Umbul-umbul Mojopuro” sedangkan pertunjukan ludruk menghadirkan lakon “Ketemu Jodoh”

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) provinsi Jawa Timur, Dr. H. Jarianto, M.Si mengatakan, GSBD adalah program rutin UPT Taman Budaya Jatim yang menghadirkan potensi seni budaya dan pariwisata berbagai daerah di Jatim secara bergantian. Kali ini giliran kabupaten Malang, yang dikenal memiliki potensi seni budaya dan pariwisata yang melimpah. Wayang Topeng Malang misalnya, merupakan kekayaan budaya kabupaten Malang yang sudah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional. Dengan demikian sudah menjadi kewajiban semua pihak untuk melestarikan dan mengembangkannya.

Ciri khas dari Wayang Topeng Malang ini adalah selalu membawakan lakon Cerita Panji, yang merupakan ikon budaya Jawa Timur. Kisahnya seputar kerajaan Jenggala dan Kediri, Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji, meski ada juga banyak varian cerita yang justru menjadikan Cerita Panji sebagai khasanah sastra lisan yang sanggup menjadi alternatif Mahabarata dan Ramayana.

Dalam pertunjukan di Taman Budaya ini, dikisahkan perihal Prabu Lembu Amiluhur yang akan turun tahta dari jabatannya sebagai raja Jenggala. Dia kebingungan untuk memilih salah satu putranya yang cocok mengganti kedudukannya. Akhirnya dari hasil musyawarah ditetapkan sayembara, barang siapa yang mampu mencabut umbul-umbul Mojopuro di alun-alun kerajaan, maka dialah yang berhak menjadi raja Jenggala. Ternyata hanya Raden Panji Asmoro Bangun yang mampu sehingga berhak menggantikan kedudukan sebagai raja Jenggala.

Sementara itu, Prabu Klono dari kerajaan sebrang ingin merebut kekuasaan kerajaan Jenggala. Dia bersama pasukannya melakukan penyerangan dan terjadilah peperangan antara kedua kerajaan tersebut. Prajurit Jenggala yang dipimpin oleh Raden Panji Asmorobangun berhasil mengusir Prabu Klono dan tentaranya dari kerajaan Jenggala. Akhirnya kerajaan Jenggala aman dan Raden Panji Asmorobangun diangkat menjadi raja.

GSBD ini dimulai sejak Jumat sore berupa gelar potensi unggulan Kabupaten Malang, bazaar kuliner dan informasi potensi pariwisata, lantas pukul 19.30 disajikan iringan musik patrol, tari Beskalan, lagu daerah Madep Mantep, tari Gading Alit dan dipungkasi dengan pertunjukan Wayang Topeng.

Perihal Tari Beskalan Putri, tarian ini merupakan tari tradisional khas Malang yang dibawakan oleh para remaja putri sebagai ucapan selamat datang, yang menggambarkan para putri yang sedang berhias mempercantik diri. Sedangkan Tari Gading Alit menggambarkan keceriaan dan kelincahan para gadis yang menginjak dewasa dan bersiap untuk menyongsong masa depannya.

Hari kedua, sejak pagi sudah diramaikan dengan Lomba Mewarnai untuk keluarga, lantas siang harinya digelar Jaranan dan pertunjukan ludruk sebagai pamungkas dalam GSBD kali ini. (*)
Informasi, Taman Budaya Jawa Timur, telp: 031 534 2128

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: