Turangga Yaksa Lahir dari Tangan Pamrih

03 - Pamrih - 1
Pamrih itu nama orang. Nama aslinya Pamrianto. Dialah yang berjasa atas lahirnya seni tari jaranan Turangga Yaksa yang menjadi terkenal sekarang ini. Maka sudah sepantasnyalah Gubernur Jawa Timur memberikan Penghargaan khusus dari 15 seniman budayawan lainnya, Senin lalu (12/10).

Turangga Yaksa adalah salah satu jenis tarian jaranan yang identik dengan kabupaten Trenggalek. Sepintas tari Turangga Yaksa (dibaca: Turonggo Yakso) sama persis dengan tari jaran kepang atau kuda lumping. Bedanya terletak pada bentuk kuda yang menjadi aksesoris utama. Jika pada kuda lumping bentuk tunggangan menyerupai bentuk kuda namun dalam Turangga Yaksa kepala kudanya berupa kepala raksasa yang berkaki kuda. Sebagaimana makna harfiahnya, Turangga (kuda), Yaksa (raksasa).

Kesenian yang kini menjadi ikon Kabupaten Trenggalek ini pada mulanya berawal dari upacara tradisi yang disebut Baritan, atau bar ngarit tandhakan, yakni semacam syukuran usai panen yang dilakukan di tengah sawah dengan terop (tenda) berupa pelepah kelapa, disemarakkan dengan tandhak yang kemudian tayuban.

Sekitar tahun 1974, ritual tersebut diubah menjadi bentuk tari, Maka pada tahun 1979 jadilah tarian yang bernama Turangga Yaksa. Pada mulanya, kepala jaranan itu bukan dulu bukan raksasa tapi kepala lembu. Namun khawatir dicurigai bermuatan politis kemudian diganti menjadi kepala raksasa berbadan kuda.

Kehadiran tarian Turangga Yaksa ini tidak lepas dari peran dominan yang dilakukan oleh seniman tradisional bernama Pamrianto alias Pamrih. Pada mulanya lelaki asal Tulungagung ini adalah pemain ludruk yang nggedhong (pentas berpindah-pindah) di kawasan kecamatan Dongko, Trenggalek. Dan ternyata, di desa itulah dia tertambat hatinya dengan perempuan setempat dan menetap di situ hingga sekarang. Hal yang sama juga dilakukan Mu’an, saudara kandungnya yang juga pemain dan pemusik ludruk.
IMG_0324
Sejak itulah Pamrih dan Mu’an mengembangkan Turangga Yaksa hingga menyebar ke seluruh Trenggalek, diajarkan ke sekolah-sekolah dan menjadi tarian wajib dalam setiap ada acara di kabupaten Trenggalek, bahkan diselenggarakan festival tahunan besar-besaran. Turangga Yaksa sudah menjadi tarian estetis yang tidak lagi makan ayam mentah seperti jaranan lainnya. Alhasil, jenis-jenis tari jaranan yang sudah ada sebelumnya kalah populer dengan Turangga Yaksa yang lahir dari desa Dongko ini. Tidak salah kalau kemudian pemerintah kabupaten Trenggalek menjadikannya sebagai ikon budaya.

Dibandingkan dengan jaranan lainnya, Turangga Yaksa merupakan tarian yang maskulin, gagah, cenderung garang. Berbeda dengan Jaranan Senterewe yang terkesan lebih nampak gemulai. Maka seorang Pamrih akhirnya menjadi narasumber utama tarian ini, menjadi pelatih yang sering diundang ke berbagai tempat oleh banyak kalangan. Bukan hanya mampu menari, namun Pamrh juga mahir ngendhang dan menata atau nyungging. Sebuah paduan yang tidak banyak dimiliki orang lain.

Sementara saudaranya, Mu’an, kemudian mengembangkan tarian ini sebagai aktivitas ekonomi kreatif, dengan menciptakan asoseris jaranan sebagai souvenir. (hnr)

Nama Populer : Pamrih
Nama Asli : Pamrianto
Lahir : Tulungagung, 11 September 1960
Alamat : Desa/Kecamatan Dongko, Kab. Trenggalek
Telepon : 085 257 630 221

Satu Tanggapan

  1. “SELAMAT & SUKSES ATAS DITERIMANYA PENGHARGAAN KHUSUS DARI BAPAK GUBERNUR JAWA TIMUR BAPAK PAMRIH, DAN TERIMAKASIH KAMI HATURKAN ATAS KARYA-KARYANYA”

    Ijin unduh dan share ulang Bapak/Ibu Redaktur/Admin..terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: