Mata Air Kebudayaan S. Jai

IMG_0283
Penampilannya yang kalem ternyata tidak menyembunyikan aktivitasnya yang luar biasa dalam tulis menulis dan kesenian. Nama populernya S. Jai (dia rahasiakan nama aslinya), pernah menjadi wartawan di Tabloid Oposisi, Surya dan Duta Masyarakat, toh langkahnya kemudian mantap sebagai penulis dan aktivis sosial budaya. Ratusan tulisan sudah dihasilkannya, termasuk belasan novel, puisi, cerpen, menulis naskah drama dan artikel di berbagai penerbitan. Puncak-puncak dari kegiatan sastra ditunjukkannya dengan mempublikasikan sejumlah karya novel, serta beberapa penghargaan yang diterimanya. Yang terbaru, penghargaan Gubernur Jatim yang diberikan bersama dengan 15 seniman budayawan lainnya.

Aktivitasnya sudah dimulai pada tahun 1994 ketika Jai terlibat kegiatan “Malam Seni Luar Biasa” dengan memanggungkan cerpennya di Dewan Kesenian Surabaya memperingati 100 hari pembredelan Tempo, Editor, Detik bersama seniman berbagai kota. Tahun 1995 bersama KSRB membuat gerakan budaya “Kami di Depan Republik” di Surabaya dan STSI Denpasar. Tahun 1998 bersama KSRB menggelar ritual “Istighotsah Tanah Garam”, di lokasi rencana pembangunan waduk Nipah di Sampang Madura–cerpen dan esai budayanya termaktub dalam jurnal dengan judul serupa sebagai penyerta aksi di hadapan anggota DPRD Jawa Timur. Tahun 1999 bersama BMS menggagas gerakan budaya Wayang Kentrung Tiji Tibeh bekerjasama dengan The Japan Foundation. Selaku kontributor gagasan, esai budayanya termaktub dalam jurnal, serta menulis naskah pertunjukan bersama perupa Syaiful Hadjar, penulis-dramawan Akhudiat. Gerakan ini pada saat itu juga menggandeng budayawan Mudji Sutrisno.
IMG_9214
Sebuah novelnya, Kumara—Hikayat Sang Kekasih memenangkan Sayembara Novel Etnografis Dewan Kesenian Jawa Timur 2013). Karya-karyanya yang lain adalah Tanah Api (Novel, LKiS 2005), Khutbah di Bawah Lembah (Novel, Najah 2010), Tanha–Kekasih yang Terlupa (Novel, Jogja Media Utama 2011), Tirai (Novel, Garudhawaca 2014), Gurah—Tak Sempat Dikubur (Novel, Pagan Press 2015), Melawan Kematian, Sebuah Otobiografi Estetik (Pagan Press 2015), Malam (Novel 2005, belum diterbitkan), Alibi (Drama 2004, belum diterbitkan), Upeti (Drama 2010, belum diterbitkan), Sepotong Cinta dan Senyum Rupiah (Drama 2010, belum diterbitkan), Racun Tembakau (Drama disadur dari On the Harmful Effects of Tobacco, Anton Chekov, 2009), Pita Buta (Film Dokumenter, 2009) dan sejumlah manuskrip buku kumpulan cerita pendek yang belum diterbitkan.

Sehari-harinya bekerja pada Women and Youth Development Institute of Indonesia–sebuah lembaga pengembangan dan pemberdayaan masalah-masalah perempuan dan pemuda, yang didirikannya pada 2011 di Surabaya. Sejak akhir 2014 mengelola Penerbit Pagan Press yang bervisi mengembangkan pengetahuan dan pemberdayaan kemanusiaan sebagai suatu mata air kebudayaan secara utuh dalam bentuk pencerahan serta wawasan masa depan melalui tradisi keilmuan. (hnr)

Nama : S. Jai
Lahir : Kediri, 4 Pebruari 1973 (formal tercatat 4 Pebruari 1972)
Pendidikan : S1 Sastra Indonesia dari FISIP Unair 1998.
Alamat : Dusun Tanjung Wetan, RT 001 RW 001, Desa Munungrejo, Kecamatan Ngimbang, Lamongan 62273
Pekerjaan : Pengarang, Penulis, Direktur SPenerbit Pagan Press
Kontak : 081-335-682-158 atau S. JAI (@jaitanha) on Twitter.

Satu Tanggapan

  1. luar biasa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s