Belum Ada Pengganti Dalang Surati (almh)

foto rokimdakas

foto rokimdakas


Mbah Rati dengan tubuh tuanya yang lusuh, berambut putih, dengan luka-luka di kakinya. Beliau menceritakan bahwa ia telah berusia lebih dari 100 tahun, beliau pun tidak ingat kapan lahir ke dunia. Walau masih memiliki ingatan sehat, serta mampu mendengarkan dengan baik, namun Mbah Rati kini tunanetra dan tak lagi mampu berjalan maupun berdiri terlalu lama.

Itulah catatan yang ditulis dari pertemuan tanggal 18 Mei 2014 oleh Novi BMW yang dipublikasikan di laman Penyuluh Kebudayaan Bojonegoro. Kondisi maestro kentrung ini sangat memprihatinkan. Padahal, dari cerita yang sering dimainkan Rati, yaitu Sarahwulan telah diangkat menjadi disertasi doktoral oleh almarhum Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo dan telah diterbitkan menjadi buku dengan judul Cerita Kentrung Sarahwulan Tuban.

Mbah Rati belajar kentrung dari bibinya selaku panjak. Bagi Dalang Rati yang buta huruf ini kentrung adalah milik keluarga yang diwariskan turun-temurun. Mula-mula dari Basiman, turun ke Basilah (adiknya), turun ke Sukilah ibu Dalang Rati (kemenakan Basilah), dan turun ke Dalang Rati. Kentrung, yang konon merupakan warisan dari seorang pujangga Persia, yang singgah di desa ini untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam pertunjukan kentrung Rati bertindak selaku dalang merangkap memegang kendang dibantu dua orang panjak. Instrumen kentrung yang dipakai adalah kendang, terbang, dan terbang kecil. Menurut Rati kata kentrung berasal dari kata ngreken (menghitung) dan njantrung (mengangan-angan). Lagu Kentrung Bate pada masanya sangat populer dan termasuk grup kesenian yang digandrungi oleh masyarakat Jawa Timur khususnya masyarakat Kabupaten Tuban, karena musik ini merupakan salah satu hiburan yang akrab didengar telinga masyarakat kala itu.

Menurut Mbah Rati, Dalang Kentrung harus bersih lahir batin, hingga posisi duduknya pun harus menghadap ke timur saat mementaskan kentrung ini. Menurut Mbah Rati, posisi ini mengandung filosofi bahwa hidup harus selalu optimis, yakni selalu menyongsong terbitnya matahari. Disamping itu, seorang Dalang Kentrung harus rela menderita tunanetra dikala usianya senja, seperti yang Mbah Rati alami kini. Mungkin karena mitos inilah, yang menyebabkan tidak adanya generasi muda yang berminat menjadi Dalang Kentrung, karena takut buta saat usianya tua.

foto novi bmw

foto novi bmw


Tanpa meninggalkan anak sama sekali, tahun 2014 Mbah Rati meninggal dunia dalam kondisi yang mengenaskan. Tidak ada pemberitaan, tidak ada pelepasan atas kepergian sang maestro Kentrung ini. Semenjak itu kesenian ini telah kehilangan gairah lagi. Sebenarnya masih ada pelaku kesenian kentrung di Bate yang tersisa, namun hanya tinggal penabuh timplungnya saja yaitu Mbah Setri, tetapi mbah Setri hanya mampu menabuh timplung dan tidak bisa mendalang. Padahal inti dari pertunjukan kentrung adalah dongeng dari sang dalang. (hnr)

Nama : Surati
Nama Panggilan : Mbah Rati
Meninggal dunia : Tahun 2014 (konon dalam usia 100 tahun lebih)
Alamat terakhir : Desa Bate, Kec. Bangilan, Kab. Tuban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: