Srawung Mandala Selomangleng; Pertunjukan dan Seminar

mangleng
KEDIRI: Sejumlah seniman ternama menyajikan pertunjukan di areal situs purbakala Gua Selomangleng, disusul seminar budaya di Museum Airlangga di lokasi yang sama, Minggu, 20 Desember 2015. Pertunjukan yang dimulai pukul 09.00 pagi itu menampilkan Suprapto Suryodarmo (Padepokan Lemah Putih, Solo), Djarot B. Darsono, Hery Suwanto dan Eko Supendi (Studio Taksu, Solo), Elly D. Luthan (Jakarta, didukung seniman Kediri), Komunitas Kediri Bertutur, Rumah Tari Sanghisu (Bandarlampung) dan penampilan dari Agung Suharyanto (Medan). Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Kediri. Acara ini terbuka untuk umum. Gratis.

Sementara Sarasehan yang dimulai pukul 14.00 diawali dengan baca puisi “Panji, Siapakah Kamu” oleh Henri Nurcahyo, dan sejumlah materi yaitu:
a. Kajian Panji Dalam Cerita Mbok Rondo Sumber Dadapan. Narasumber: Prof. Dr. L. Dyson P, Drs, M.A.
b. Dongeng Panji Inspirasi Perkokoh Ke-Bhineka-an NKRI. Narasumber: Agus Bima Prayitna (Mbah Bima Merapi Timur)
c. Fungsi Sakral Gua Selomangleng Lintas Masa. Narasumber: Drs. M. Dwi Cahyono, M. Hum.
d. Seni Pertunjukan. Narasumber: Daniel Haryono B.A., M. Hum.
Moderator: Dr. Subardi Agan, M.Pd.

Pertapaan Kilisuci
Naskah publikasi yang didapat dari panitia menyebutkan, bahwa Gua Selomangleng di kota Kediri-Jawa Timur, terletak di kaki Gunung Klotok yang merupakan bagian dari Pegunungan Wilis yang berada di sebelah timur. Gua Selomangleng merupakan situs bersejarah tempat pertapaan “Sanggrama Wijayatunggadewi, ” yang lebih dikenal dengan nama “Dewi Kilisuci,” seorang puteri mahkota dari Kerajaan Kahuripan. Dewi Kilisuci atau Sanggrama Wijaya adalah puteri Raja Airlangga yang lebih memilih jalan pertapaan demi mencapai pencerahaan dari pada menjadi pewaris tahta kerajaan.
Kisah perjalanan Dewi Kilisuci memiliki kemiripan dengan perjalanan Sidharta Gautama yang pergi meninggalkan kemewahaan istana demi perjalanan suci. Gua Selomangleng, merupakan Widya Kadewatan atau Widya Mandala, yang berarti tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dewi kilisuci adalah insipirator pluralisme dan pemersatu. Adanya arca Budha dan relief Garuda Mukha di dalam Gua Selomangleng menjadi bukti bahwa sinkretisme antara Hindu dan Budha sudah terjadi di era Dewi Kilisuci.

Merujuk pada simbol Budha dan Hindu yang terdapat di dalam gua, berarti dulunya penganut Hindu dan penganut Budha pernah tinggal bersama-sama, hidup rukun dan damai di satu tempat yang sama yaitu; kawasan Gua Selomangleng. Dewi Kilisuci adalah sosok sentral bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji. Bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji, berarti bersatunya kerajaan Jenggala dan Daha (Kediri). Kisah Dewi Kilisuci sebagai pemersatu Panji dan Dewi Sekartaji terdapat dalam cerita atau lakon “Panji Semirang.”

Kisah Dewi Kilisuci banyak dikaitkan dengan mitos, legenda, folklor, sampai seni tradisi; mitos Lembu Sura dan Mahesa Sura yang ada di Gunung Kelud, kesenian kuda kepang dan reyog kendang, cerita Panji Semirang dll. “Srawung Mandala Selomangleng,” adalah aktivitas budaya melalui pergelaran dan sarasehan (seminar) yang bertujuan “merevitalisasi ” fungsi sakral Gua Selomangleng sebagai tempat sumber ilmu pengetahuan dan keselarasan.
Contact Person: Aris, 0821 4245 5999. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: