Satyalencana Kebudayaan buat Supartobrata

img-20160915-wa0003
JAKARTA: Perintis sastra popular dengan tema kisah detektif untuk menanamkan daya pikiran analitis dalam sastra Jawa, yaitu sastrawan ternama dari Jawa Timur, Supartobrata (alm) mendapatkan Gelar Tanda Kehormatan Satyalencana Kebudayaan. Selain Suparto, diantara 10 (sepuluh) penerima Satyalencana Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2016 ini juga ada nama Slamet Abdul Syukur (alm) yang tercatat mewakili provinsi DKI Jakarta. Slamet yang lahir dan dimakamkan di Surabaya ini dinilai berhasil “merintis penciptaan musik kontemporer Indonesia dengan menggali sumber-sumber Indonesia sendiri.”

Acara Penyerahan Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi ini akan disampaikan langsung oleh Mendikbud Muhadjir Effendy pada Jumat (23/9) di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/kontribusi-nyata-lestarikan-budaya-melalui-anugerah-kebudayaan/

Penghargaan buat Jawa Timur lainnya juga diraih dalam katagori Pencipta, Pelopor dan Pembaru, yang kali ini dianugerahkan kepada Dynan Fariz (Jember) sebagai penggagas dan perancang karnaval tatabusana; Akhudiat (Surabaya) sebagai pembaru penulisan sastra drama pada tahun 1970-an; dan Leo Imam Soekarno (Leo Kristi) sebagai salah satu pelopor dan pencipta lagu-lagu balada di Indonesia dan konsep rekaman yang didanai oleh kelompok penggemar (crowd funding).
Sedangkan kabupaten Jember mendapat penghargaan sebagai Pemerintah Daerah yang dinilai berhasil mengembangkan aset-aset budaya dan lembaga pendidikan sehingga memberikan nilai tambah ekonomi dan sosial budaya.

Bocoran nama-nama tersebut di atas didapat dari lampiran surat undangan yang dikirimkan oleh Direktorat Jendral Kebudayaan RI, yang ditandatangani oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Nadjamuddin Ramly.

Penghargaan tertinggi berupa Gelar Tanda Kehormatan Parama Dharma diberika kepada 4 (empat) orang, yaitu KGPAA Mangkoenagoro VII (RRM Soerjosoeparto), Taufik Ismail, Martha Tilaar dan Achadiati Ikram.

Sedangkan katagori Satyalencana Kebudayaan, selain Soepartobrata dan Slamet Abdul Syukur, juga terdapat 8 (delapan) nama lainnya yakni: Franciscus Geogius Josephus van Lith (DIY), Hasan Basri (Kalsel), Soekarno M. Noor, Aminah Cendrakasih, Agustinus Kasim Ahmad, (keempatnya dari DKI Jakarta), Munasiah Najamuddin (Sulsel), dan Kartono Yudhokusumo (…).
Sementara katagori Pelestari antara lain terdapat nama Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta.

Dan yang berada dalam katagori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu, bersama Dynan Fariz, Akhudiat dan Leo Kristi, antara lain; Ery Mefri (koregrafer, Sumbar), Widyawati Sophiaan (film, DKI Jakarta), Semsar Siahaan (perupa, Jawa Barat), Wiyoso Yudoseputro (pematun, Jabar), dan Chandra N Darusman (musik, DKI Jakarta).

Katagori yang lainnya, yaitu Maestro Seni Tradisi, Anak dan Remaja berprestasi, Komunitas (yang diraih antara lain oleh Bentara Budaya), serta 3 penerima katagori perseorangan asing. (hnr)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: