Dramatari Gayatri dari Tulungagung

img-20160923-wa0011
SURABAYA: Gayatri Rajapadmi adalah tokoh perempuan di balik kejayaan Majapahit yang nyaris dilupakan jasanya. Puteri Raja terakhir Singhasari yang juga permaisuri Raden Wijaya itu pernah mencetuskan Cakrawala Mandala Jawa sebagai konsep wawasan nusantara ketika berada di bukit penampihan Tulungagung. Kisah inilah yang disajikan dalam dramatari di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, Jum’at (7/10).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, DR. H. Jarianto, M.Si mengatakan, bahwa pergelaran dramatari tersebut merupakan rangkaian dari Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) Kabupaten Tulungagung bertema “Gumebyar Lawadan Mulya Tinata” yang berlangsung dua hari (7-8 Oktober).

Pada era Majapahit, Candi Penampihan adalah salah satu pusat pendidikan di wilayah Ngrowo selain Mandala Pacira (Bukit Pasir). Di bukit pasir inilah Ratu Gayatri menanamkan konsep-konsep tentang persatuan wilayah nusantara, juga prinsip tolerasi kehidupan beragama. Prinsip tersebut merupakan amanah yang diemban dari mendiang ayahnya Kertanegara yang juga raja terakhir Singasari.

Acara rutin di pendopo TBJT ini diawali Jum’at sore dengan pameran hasil produk unggulan, kuliner khas dan informasi wisata Kabupaten Tulungagung. Sebelum seremonial pembukaan, diawali dengan sajian Beksan Gambyong Mari Kangen, sebuah tarian yang menggambarkan Putri Tulungagung yang tengah menikmati masa remajanya dengan menunjukkan segala potensi diri berupa kecerdasan, kecantikan, keindahan dan kesopanan berbusana serta keteguhannya dalam menjaga citra jatidirinya dengan bersikap santun, bijak dan tetap setia menjunjung nilai adiluhung budaya bangsa. Pembawaan perilaku dan tutur kata yang lemah lembut serta keramahan yang terpancar di wajah memberikan kesan keindahan seorang putri dengan keanggunan yang mempesona.

Dilanjutkan persembahan lagu daerah Tulungagung Ayem Tentrem Mulya Tinata, sebuah lagu campursari langgam Jawa ciptaan Wagiran Pratama, yang menggambarkan keadaan bumi Tulungagung yang subur makmur gemah ripah lohjinawi serta kehidupan masyarakatnya yang damai dan tentrem berbagai hasil kebudayaan adiluhung tumbuh dan berkembang dengan subur menambah keagungan, kerjasama dan kegotongroyongan dan persatuan pemimpin dan rakyat membuahkan prestasi yang bermanfaat bagi laju pembangunan demi kesejahteraan seluruh warga Tulungagung.

Acara hari pertama, dipungkasi dengan pergelaran dramatari “Cakrawala Mandala Jawa” yang mengisahkan Puteri Gayatri.

Hari Sabtu, acara sudah dimulai pagi hari dengan lomba menghias donat untuk keluarga, disusul pergelaran Jaranan Sentherewe pada siang harinya. Kesenian tradisional ini menggambarkan prajurit yang tengah menjalani pendadaran atau uji ketrampilan setelah menimba ilmu. Dalam pendadaran itu mereka melakukan perjalanan di hutan belantara, sehingga bertemu dan berkelahi dengan ular naga yang digambarkan dengan barongan dan kalasrenggi (babi hutan) dalam adegan selengan. Kisah tersebut adalah gambaran cobaan yang dihadapi saat berupaya menggapai cita-citanya. Bila mampu menghadapi cobaan tersebut maka apa uang dicari dalam hidupnya akan dapat tercapai.
Malam harinya, dihadirkan pergelaran ketoprak dengan judul Sri Tanjung. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: