Fragmen Panji Sri Aji Jayabaya

fb_img_1478611930664SURABAYA: Sebuah pergelaran fragmen Panji berjudul “Sang Maharaja Prabu Sri Aji Jayabaya” digelar di Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Gentengkali 85 Surabaya, Jum’at malam (11/11) sebagai bagian dari Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) dari Kabupaten Kediri. GSBD itu sendiri berlangsung dua hari, hingga Sabtu malam, dengan tema “Pesona Kediri Bumi Panji.”

Sri Aji Joyoboyo adalah raja besar gung binatara dari kerajaan Kediri yang memerintah sekitar abad XII. Selain sebagai raja yang arif dan bijaksana dia juga ahli nujum yang dapat membaca cerita yang ada di langit dan yang ada di bumi yang terkenal dengan Jangka Jayabaya. Kepemimpinan Prabu Sri Aji Joyoboyo merupakan awal bersatunya kembali dua kerajaan yaitu Jenggala dan Kediri.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, DR H Jarianto, MSi mengatakan, bahwa GSBD ini merupakan ajang untuk potensi seni budaya dan pariwisata masing-masing daerah di Jawa Timur. Sebagaimana fungsinya, Taman Budaya Jatim memang merupakan institusi yang memperkenalkan potensi tersebut ke hadapan khalayak umum, khususnya bagi pelaku pariwisata, seni dan budaya. Bahkan, “dalam acara GSBD ini dapat dijadikan sarana silaturahmi sesama warga asal daerah yang sama, kali ini dari Kabupaten Kediri,” ujar Jarianto.

Pada hari yang sama (Jumat) sebelum pergelaran fragmen tersebut di atas acara GSBD ini akan diawali dengan Beksan Gambyongan biasa disajikan saat mengawali gelar tayuban yang peraganya adalah para waranggana. Gambyongan pada Ritual Suro di Makam Ki Ageng Doko Kediri juga merupakan sajian khusus yang tidak boleh ditinggalkan dan harus menampilkan gending wajib, yaitu Ketawang Gunungsari atau Puspawarno, Ladang Eling-Eling dan Ladang Sekar Gadhung. Pada Gelar Seni Budaya Daerah Kabupaten Kediri Beksan Gambyongan dikemas sedemikian rupa sebagai ucapan selamat datang kepada hadirin tamu undangan.

Disamping itu juga ada pertunjukan Tari Si Kleting dan sajian lagu daerah dengan tema Dewi Kilisuci dan Dewi Sekartaji. Dan selama dua hari dibarengi dengan pameran potensi seni budaya dan pariwisata serta bazaar kuliner khas Kediri.

Hari kedua, acara sudah diawali sejak Sabtu pagi (12/11) berupa Lomba Mewarnai untuk Keluarga, disusul pergelaran seni tradisional Jaranan pada siang harinya. Jaranan merupakan gambaran dari prajurit Bhayangkari yang setia dalam tugas untuk menjaga kewibawaan raja. Kegagahan prajurit-prajurit Kediri menginspirasi seniman-seniman Kediri dengan bentuk kesenian Jaranan. Kesenian ini merupakan seni khas dan sangat populer di Kabupaten Kediri, penarinya menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu, dan diiringi musik gamelan, beberapa penari lain menggunakan bentuk Caplokan, Kucingan dan Babi Hutan.

Malam harinya, acara dibuka dengan sajian tari Gendam Asmoro, dan dipungkasi dengan pertunjukan ludruk dengan lakon “Joko Kendil”. Dalam pertunjukan ini dikisahkan bahwa pada zaman dahulu kala terdapat seorang wanita dengan anak laki yang memiliki bentuk fisik yang aneh yaitu mirip sebuah periuk sehingga orang menyebutnya Joko Kendil.
Ketika Joko tumbuh dewasa, ibunya bingung dan sangat sedih karena Joko meminta ibunya untuk melamarkan puteri Raja. Tetapi ternyata, dari ketiga puteri Raja, justru puteri bungsulah yang bersedia menerima lamaran Joko Kendil. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Seluruh pertunjukan ini terbuka untuk umum dan gratis, tanpa undangan.
Informasi selengkapnya, Taman Budaya Jawa Timur, telepon 031 534 2128 (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: