Pertunjukan Legenda Telaga Sarangan

SURABAYA: Telaga Sarangan di Magetan sudah terkenal sebagai objek wisata, namun tidak banyak yang mengetahui legenda bagaimana asal-usulnya. Legenda Telaga Sarangan itulah yang akan disajikan dalam sebuah seni pertunjukan di pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Gentengkali 85 Surabaya, Jum’at malam (9/12) dalam rangkaian acara Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) dari Kabupaten Magetan hingga Sabtu malam (10/12).

Legenda ini berkisah Ki Pasir dan Nyi Pasir dengan anaknya, Jaelelung. Suatu ketika suami isteri itu menemukan sebutir telur besar, lantas dibakar dan dimakan. Namun setelah itu tubuh mereka gatal dan panas yang luar biasa. Mereka bergulingan di tanah, menggelepar-gelepar sehingga membuat cekungan di sana-sini dan tubuhnya berubah menjadi naga yang besar. Sampai akhirnya dari cekungan yang makin dalam tersebut memancarkan air yang menggenang hingga berubah menjadi telaga.

Jaelelung yang kehilangan jejak ayah dan ibunya terus mencari hingga sampai di telaga tersebut dan bertemu raksasa yang mengamuk karena tempat tinggalnya dirusak dan berubah jadi telaga. Jaelelung marah dan mengganggap raksasa itulah yang telah memakan ayah dan ibunya. Terjadilah perkelahian yang seru Jaelulung dan raksasa tersebut. Bagaimana akhirnya?

GSBD bertema “Mutiara Sukuning Argo Lawu” ini diawali dengan Bedaya Kidung Sesanti, Tari Kayon, dan lagu daerah “Kangen Magetan”. Tari “Bedaya Kidung Sesanti” menggambarkan pergulatan jiwa seseorang yang timbul dari perenungan atas perilaku buruk hingga akhirnya tenang dan teguh hati melangkah ke masa depan. Sedangkan Tari Kayon menggambarkan keindahan alam pemandanan di lereng timur Gunung Lawu bagai bidadari menari di kahyangan.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim, DR. H. Jarianto, M.Si, acara ini merupakan rangkaian akhir GSBD yang diselenggarakan sepanjang tahun 2016. Diharapkan tahun depan banyak daerah yang dapat menampilkan potensi seni budaya dan pariwisatanya dalam acara semacam ini sehingga semakin dikenal masyarakat secara luas.

Hari Sabtu, acara sudah dimulai sejak pagi dengan Lomba Melukis Celengan, pergelaran kesenian daerah pada siang hari, dan dipungkasi dengan pergelaran drama tari berjudul “Joko Klanthung.” Ini adalah legenda di kaki Gunung Lawu, tentang seorang jejaka putra seorang janda, hendak mempersunting anak Demang di pedukuhan Nggulun Plaosan. Karena buruk rupa, lamaran ditolak, Sang jejaka merasa terhina, lantas dia bertapa di tepi Telaga Wurung agar terkabul cita-citanya. Terjadilah keajaiban, sang buruk rupa berubah menjadi jejaka nan gagah tampan mempesona. Karena tercapai cita-citanya maka nama Telaga Wurung diubah namanya menjadi Telaga Wahyu.

Selama berlangsung GSBD ini, di halaman Taman Budaya Jatim disajikan bazaar produk kerajinan, pameran potensi pariwisata, dan kuliner khas Magetan.

Informasi, Taman Budaya Jatim: 013 5342128. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: