Kuda Bisa Menari dari Lumajang

ilustrasi-533x800SURABAYA: Sebuah pertunjukan tradisional “Jaran Kencak” dari Lumajang dipertunjukkan di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, Sabtu (11/3) pukul 11.00 siang. Dalam pertunjukan ini yang menjadi pemain utamanya adalah seekor kuda yang sanggup menari menurut perintah pawangnya. Lantaran keunikannya itulah Jaran Kencak sudah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional dari Jawa Timur tahun 2016 kemarin.

Dalam rangkaian acara Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) bertema “Gebyar Bumi Lamajang” yang dimulai Jumat sore hingga Sabtu malam (10-11/3) diisi dengan Bedhaya Lumajang, Tari Godril, Lagu Daerah “Lumajang Sae” dan pergelaran seni pertunjukan Dramatari “Prahara Candi Puteri”. Keesokan harinya (Sabtu), dimulai dengan Lomba Kolase untuk Anak, Jaran Kencak dan Sabtu malam dipungkasi dengan gelar Tayub khas Lumajang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, DR. H. Jarianto, M.Si berharap acara rutin di Taman Budaya ini dapat membuka cakrawala baru bagi masyarakat bahwa kabupaten Lumajang memiliki potensi seni budaya dan pariwisata yang luar biasa.

Tari Bedhaya Lamajang adalah sebuah tari garapan baru yang berpijak pada vokabuler tari tradisi dan terinspirasi dari kecantikan putri putri di jaman kejayaan bumi Lamajang. Tari ini dipertunjukkan untuk penyambutan tamu dan sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan juga sebagai penolak balak.

Lagu daerah “Lumajang Sae” menggambarkan tentang indahnya objek pariwisata, makanan khas Kabupaten Lumajang, keindahan Gunung Semeru serta kesenian dan kebudayaan. Sedangkan Tari Godril Lumajang adalah sebuah tari pergaulan dan kreasi baru yang terinspirasi dari kesenian tayub yang ada di Kabupaten Lumajang, Tari Godril ini ditarikan secara berpasangan yakni oleh penari perempuan dan laki laki.

Dramatari “Prahara Candi Putri” berangkat dari sebuah cerita rakyat Desa Candi Kecamatan Candipuro. Konon ada seorang putri yang cantik, baik hati dan bijaksana, yang sangat dicintai oleh masyarakat. Namun kebalikannya dengan sifat sang ibu, yang memliki kekuatan sihir jahat dan sering membuat sengsara masyarakat.

Akhirnya ada seorang ksatria yang menyamar sebagai maling aguno, yang terpana melihat kecantikan dan kebaikan sang putri hingga membuatnya jatuh cinta tanpa ia sadari bahwa Putri Kirana adalah anak dari musuh yang akan dilenyapkan. Sang Putri membalas cintanya, hingga berani melenyapkan kesaktian sang ibu. Namun tanpa disadari ibunya akan meninggal jika ia mencabut cundrik sakti milik ibunya. Akhirnya putri sangat sedih melihat ibunya telah tiada akibat secara tidak sengaja telah menusukkan cundrik saktinya ke perut sang ibu.

Pada hari kedua, meski di beberapa daerah juga terdapat Tayub, namun seni tari pergaulan yang ada di Lumajang ini memiliki cirinya sendiri. Selain sebagai seni hiburan tayub juga diyakini sebagai tolak bala, dan dapat melindungi suatu desa dari kemalangan atau bencana. Acara inilah yang memungkasi GSBD selama dua hari yang ja disemarakkan dengan pameran produk unggulan, bazaar kuliner khas Lumajang serta promosi potensi wisata Kabupaten Lumajang. (*)

Informasi, Taman Budaya Jawa Timur, telp: 031 5342128.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: