Lima Warisan Budaya Jatim Ditetapkan Nasional

Sandur Manduro


JAKARTA: Setelah melalui seleksi ketat dan persidangan, Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asal Jawa Timur ditetapkan sebagai WBTB Nasional dalam Sidang Penetapan WBTB Indonesia yang berlangsung di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, Rabu siang (23/8). Kelima WBTB Jatim tersebut adalah Sandur Manduro (Jombang), Ceprotan (Pacitan), Jamasan Pusaka Kyai Pradah (Blitar), Nyader (Sumenep) dan Damar Kurung (Gresik).

Acara tahunan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia sejak tahun 2013. Pada mulanya penetapan WBTB Nasional dilakukan oleh Tim Ahli namun sejak tahun 2014 diberikan kesempatan kepada Dinas Kebudayaan masing-masing provinsi untuk mengajukan usulan, dan setelah lolos seleksi administratif kemudian dilakukan sidang terbuka. Kali ini sidang terbuka diadakan tanggal 21-24 Agustus dan akan dilakukan penyerahan sertifikat WBTB Nasional bulan Oktober yang akan datang oleh Mendikbud RI.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam sidang penetapan kali ini, masing-masing WBTB tersebut juga dipresentasikan langsung oleh wakil daerah masing-masing, baik dari Dinas Kebudayaan setempat maupun pelakunya langsung.

Sandur Manduro misalnya, langsung diwakili oleh Warito, pimpinan Grup Sandur Gaya Rukun Jombang, didampingi oleh Kabid Kebudayaan Disbudar Jombang. Sandur Manduro adalah sebuah seni pertunjukan berbentuk teater tradisional dimana pemainnya menggunakan topeng dalam dua jenis, yakni kedok (topeng) binatang dan kedok wajah tokoh manusia. Pewarnaan yang mendominasi kedok Manduro yaitu warna hitam, merah, dan putih yang merupakan pencerminan dari karakter etnis Madura. Pertunjukan ini berisi banyak tarian yaitu Tari Bapang, Klana, Sapen, Punakawan, Gunungsari, Panji, jaranan, burung dan sebagainya.

Ceprotan adalah ritual tahunan masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo, pada bulan Dzulqaidah (Longkang), pada hari Senin Kliwon untuk mengenang pendiri desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa. Upacara ini diyakini dapat menjauhkan desa dari bencana dan memperlancar kegiatan pertanian. Dinamakan Ceprotan lantaran ada adegan saling melempar buah kelapa muda (cengkir) yang sudah lunak yang dilakukan dua kelompok.
Sedangkan Jamasan atau Siraman Kyai Pradah adalah ritual memandikan benda pusaka berupa sebuah gong dengan menggunakan air kembang setaman. Upacara ini dimaksudkan sebagai sarana memohon berkah kepada kekuatan gaib atau roh leluhur yang ada di dalam Kyai Pradah. Masyaraat percaya bahwa air bekas siraman Kyai Pradah dapat membuat awet muda dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Sementara Nyader adalah ritual di Sumenep sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan menghormati para leluhurnya yang telah mengajarkan cara membuat garam. Masyarakat setempat yang pekerjaan utamanya sebagai petani garam melakukan hal ini di makam keramat yaitu Syekh Anggosuto dan di bekas rumahnya. Ritual ini dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu bulan Juni menjelang panen garam, bulan Agustus ketika panen masih berlangsung dan bulan September pada masa akhir panen.

Dan yang terakhir, Damar Kurung digolongkan sebagai kemahiran tradisional yang khas Gresik berupa lampion dengan lukisan unik yang berasal dari tradisi Wayang Beber. Kesenian yang nyaris punah ini berhasil dipertahankan oleh perajin terakhir yaitu Mbah Masmundari yang menjelang kepergiannya (2005) mengalami perkembangan luar biasa menjadi seni rupa dua dimensi dan mendapatkan apresiasi masyarakat dan pemerintah daerah Gresik sehingga menjadi ikon Kabupaten Gresik. (hn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: