Seakan-akan Leo Kristi Hidup Kembali

01 (640x427)
SURABAYA: Acara “resminya” adalah diskusi buku “Pohon Tua Ranting-ranting Kering” yang diterbitkan oleh Hamid Nabhan. Buku itu berisi kumpulan syair lagu-lagu Leo Kristi yang tak ubahnya memang sebuah buku kumpulan puisi. Tetapi mau tidak mau yang kemudian terjadi adalah serangkaian testimoni mengenai troubador yang legendaris itu. Bahkan Sirikit Syah yang menjadi moderator diskusi dengan pembicara Taufik Rahzen dan Amang Mawardi, tak kuasa membendung kenangannya yang unik dan personal mengenai Leo Kristi.

Acara yang berlangsung pada hari kedua (14/10) Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) di Jx International itu memang dimaksudkan untuk mengenang kepergian seniman yang direncanakan selalu tampil dalam pembukaan PSLI. Sudah dua tahun berturut-turut Leo Kristi mengisi PSLI, baik sendiri maupun formasi lengkap. Kali ini, dengan tajuk “147 Hari Tanpa Leo Kristi” digelar acara berupa diskusi buku dan mementaskan kembali lagu-lagu Leo Kristi dengan personal Mung Sriwiyana dan Titik Sutopo, serta juga para pemuja Leo dalam komunitas LKers. Maka jadilah ini ajang reuni antar LKers dari berbagai kota di Indonesia.

Siapakah Leo Kristi? Dalam diskusi buku itulah mencuat sejumlah kesaksian, bahwa Leo adalah musisi fenomenal, pelukis, penyair, pengelana, pribadi yang unik dan nyentrik, pecinta perempuan, keturunan Raja Brawijaya V, seorang sahabat yang menyenangkan sekaligus guru yang hebat. Testimoni itu disampaikan oleh pelukis Sukriyal Saladin, Ramdan Malik yang rajin mendokumentasi karya Leo, Yeni Mada yang jauh-jauh datang dari Pontianak, Usman yang punya hubungan mistis dengan Leo dan Cak Kandar yang blak-blakan bercerita soal dunia perempuan Leo Kristi.

Tetapi yang membuat tercengang adalah pernyataan Taufik Rahzen, bahwa Leo Kristi bisa disamakan dengan Mpu Prapanca yang menulis Negara Kratagama (Desa Warnana), yang baru akan lahir 1000 (seribu) tahun lagi. Leo adalah Raden Panji yang selalu berkelana dan mencari cinta serta menjadi perantara antara dunia Dewa (dengan bahasa alamkara) dan dunia manusia kebanyakan.

“Saya pernah marah sekali pada Leo karena membuat ibu saya sakit, tetapi justru saya ganti dimarahi oleh ibu saya yang mengatakan, bahwa jangan-jangan Leo Kristi itu malaikat,” ujar Taufik. Sejak itu, tambahnya, saya tidak peduli lagi dengan yang dikatakan dan dilakukan Leo. Dia memang punya dunia sendiri.

Saya sendiri kenal Leo sudah puluhan tahun, tapi tak lebih dari kenal biasa, tak pernah akrab, hanya saling sapa. Tetapi ketika mengikuti diskusi kemarin, saya sepakat dengan Taufik Rahzen, bahwa Leo Kristi akan menjadi lebih besar justru ketika dia sudah tiada. Leo Kristi bisa jadi dikutuskan.

KONSER RAKYAT (TANPA) LEO KRISTI

Menyusul diskusi buku “Pohon Tua Ranting-ranting Kering” siang hari, pada malam hari digelar “Konser Rakyat (tanpa) Leo Kristi” di arena Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) hari kedua (14/10) yang berlangsung di Jx International hingga tanggal 22 Oktober. Sedemikian meriahnya acara ini, seakan-akan Leo Kristi hidup kembali.

Siang hari itu, saat diskusi, Rezza Suhendra sudah tampil sendiri membawakan lagu Leo yang belum pernah direkam. Menurut Ramdan Malik, Rezza memang memiliki daya ingat yang kuat terkait karya Leo ini. Bahkan dia bisa hafal sampai grip-gripnya. Dan pada malam harinya, Rezza hadir di panggung bersama dengan Gamawan Waloeyo, Bambang Arumbinang (BA), Dauri, dan tiga trio perempuan Tanty Soewarno, Linda Susanto dan Retno Andang. Lagu demi lagu meluncur lancar sehingga memuaskan dahaga para penggemar Leo Kristi. Mereka selama ini memang fanatik dengan lagu-lagu Leo Kristi, bagaikan habitat subur bagi Leo yang belakangan sudah tidak pernah rekaman lagi dan nyaris tidak pernah juga manggung untuk masyarakat umum. Petikan gitar Rezza, lengkap dengan cakaran-cakarannya, melambungkan ingatan pada sosok Leo. Apalagi dia memainkan gitar dengan satu kaki menumpang di atas tong. Persis Leo.

Imajinasi atas kehadiran Leo ini semakin mengental ketika kemudian tampil personal asli, karib Leo sejak awal, yaitu Mung Sriwiyana dan Titik Sutopo alias Titik Manyar. Kostum Mung berupa jubah hitam dengan topi koboy juga hitam, ikut memperkuat imajinasi terhadap Leo ini. Namun yang tak bisa dipungkiri, suara Mung memang tidak sedahsyat Leo, apalagi dalam usia senja ini nafasnya sudah agak tersengal. Tak mampu mencapai nada-nada tinggi.

Mereka dibantu oleh adik Mung yang nomor 9, Joni Steve. Mung sendiri anak ketiga dari 10 bersaudara. Sementara dua dari tiga anak kandung Mung ikut memperkuat formasi di panggung, yaitu Samuel (anak pertama) dan Lana Carisagea (puteri kedua), sementara puteri bungsunya duduk manis di kursi penonton paling depan. Bersama dengan satu temannya, Alvin, anak-anak Mung ini duduk memainkan musik di belakang sehingga tidak jelas terlihat penonton. Entah mengapa, mungkin masih belum percaya diri. Sementara satu personal lain yang membantu bernama Nono.

Jarum jam sudah merangkak semakin malam, penonton seolah terhipnotis oleh suasana sebagaimana menyaksikan Leo Kristi sendiri. Sesekali sejumlah penonton ikut menyanyi dalam lagu-lagu yang sudah mereka hapal. Dan ketika Mung melantunkan lagu tentang Timor Timur, “sebut dengan satu kataaaa……” Puluhan penonton sontak berteriak “Merdeka..!” sambil mengepalkan tangan ke atas.

Mereka seakan lupa, ini adalah Konser Rakyat Tanpa Leo Kristi. Toh kehadiran fisik Leo tidak begitu penting lagi saat itu, karena semangat Leo tidak pernah padam. Bukan hanya para LKers yang merawat api semangat Leo, tetapi sebagaimana kata Taufik Rahzen, Leo Kristi justru menjadi lebih besar lagi setelah dia tiada.

Di tengah-tengah penampilan, Mung menyapa Welldo Whopringgo, seniman nyentrik dari Bali yang sejak awal memang sudah gatal ikut tampil. Maka dengan dandanan super heboh, busana minim namun penuh dengan asesori, Welldo meliak-liukkan tubuhnya di depan panggung.

Mung dkk turun panggung, gantian para LKers naik panggung kembali. Kali ini ditambah personal Redy Eko Prasetyo, salah satu sahabat dan murid Leo yang pernah berkelana menjelajah hutan-hutan Kalimantan.

Sebagai manusia biasa Leo Kristi boleh saja meninggal dunia, namun lagu-lagu dan syairnya bagaikan kitab pusaka yang luar biasa berharga. Inilah saatnya mempelajarinya kembali dengan serius, bukan sekadar untuk iringan lagu, karena Leo sudah menjalani hidup bagaikan pertapa, pejalan sekaligus pelaku. Leo Kristi sesungguhnya masih tetap hidup di hati sanubari mereka yang mau sinau. Leo Kristi masih hidup lebih lama dari selama-lamanya. (hnr)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: