Teguh Santosa (alm), Komikus Jatim Tiada Tanding

088
Bagi mereka yang pernah mengalami masa kejayaan komik, pasti kenal dengan nama Teguh Santosa. Karyanya yang monumental adalah komik roman sejarah yaitu Sandhora, terdiri dari 9 jilid setebal 540 halaman dan telah dicetak ulang sampai 3 kali. Teguh Santosa menggambar komik Sandhora dengan setting serampung perang Diponegoro (1825-1830).
Baca lebih lanjut

Iklan

Dedikasi Achmad Fauzi (Almarhum) Sampai Akhir

achmad_fauzi_dk jatim
Belum lama duduk sebagai ketua umum Dewan Kesenian Jawa Timur (DK Jatim) untuk periode kedua, Fauzi jatuh sakit untuk beberapa lama. Masih berusaha aktif berkegiatan dalam kondisi sakit, menjalani terapi, toh akhirnya Bapak dua puteri ini terpilih bertemu denganNYA, dan dimakamkan di Sumenep, tanah kelahirannya. Maka penghargaan dari Gubernur Jatim yang diberikan saat peringatan HUT Provinsi Jatim Senin lalu (12/10) diterima oleh isterinya.
Baca lebih lanjut

Dedikasi Djati Kusumo Tak Pernah Surut

0011
Pernah dikenal sebagai pelawak dan anggota DPR RI, sesungguhnya Djati Kusumo adalah seorang budayawan yang memiliki dedikasi luar biasa. Ketika itu, Djati masih menjadi PNS di Kantor Departemen Penerangan Kota Malang (1973-1987). Toh posisi nyaman sebagai PNS itu ditinggalkannya karena gerah dengan iklim monoloyalitas pegawai negeri yang harus menjadi anggota Golkar. Padahal, Djati sempat terpilih dalam 10 besar Karyawan Prestasi Nasional di lingkungan kerjanya. Alasannya adalah “… Orba kakinya tiga (Golkar-PDI-PPP), patah satu pasti tumbang.” Baca lebih lanjut

Oong Fathorrochman: Menjadikan Manusia Seutuhnya

0
Salah satu dari 15 seniman penerima Penghargaan Gubernur Jatim 2015 adalah Oong Fathorrochman. Nama aslinya Fathorrochman Achmad, dikenal sebagai seniman Teater yang cukup lengkap. Selain menggagas dan sebagai kreator, juga melakukan pembinaan terhadap anak-anak hingga mampu menyelesaikan studinya. Oong terlahir tahun 1965 (50 tahun), namun raut wajahnya terlihat melebihi usianya. Aktivitas teater yang dilakukannya di Bengkel Teater Rendra menjadi bekal baginya untuk memberikan pemahaman mendasar berteater sehingga seseorang tidak saja mampu bermain, tetapi juga mampu menghadapi kenyataan hidup, bersikap positif, memiliki ketaatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Baca lebih lanjut

Mata Air Kebudayaan S. Jai

IMG_0283
Penampilannya yang kalem ternyata tidak menyembunyikan aktivitasnya yang luar biasa dalam tulis menulis dan kesenian. Nama populernya S. Jai (dia rahasiakan nama aslinya), pernah menjadi wartawan di Tabloid Oposisi, Surya dan Duta Masyarakat, toh langkahnya kemudian mantap sebagai penulis dan aktivis sosial budaya. Ratusan tulisan sudah dihasilkannya, termasuk belasan novel, puisi, cerpen, menulis naskah drama dan artikel di berbagai penerbitan. Puncak-puncak dari kegiatan sastra ditunjukkannya dengan mempublikasikan sejumlah karya novel, serta beberapa penghargaan yang diterimanya. Yang terbaru, penghargaan Gubernur Jatim yang diberikan bersama dengan 15 seniman budayawan lainnya.
Baca lebih lanjut

Kreativitas Membuncah Eko Hardoyo

IMG_0327
Meski secara formal sebagai PNS Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban, Eko Hardoyo aktif berkarya sebagai seniman dan menjadi motor aktivitas berkesenian di Tuban. Kalangan seniman mengenalnya dengan nama Eko Kasmo, seorang musisi yang super aktif dalam berbagai kegiatan. Bukan hanya lantaran posisinya di institusi pariwisata maka Eko Kasmo sering mewakili kabupaten Tuban dalam banyak festival, dan nyatanya sering meraih juara. Maka tak salah kali ini mendapatkan penghargaan Gubernur Jatim yang diberikan di gedung Grahadi Senin lalu (12/10). Baca lebih lanjut

Perjalanan Spiritual Wahyu Nugroho

IMG_0296
“Berkesenian adalah salah satu bagian dari perjalanan spiritual,” ujar Wahyu Nugroho, salah satu penerima Penghargaan Gubernur Jawa Timur 2015. Melukis baginya adalah sebuah proses meditasi. Ia merupakan proses pengembaraan intuisi untuk menangkap dan menerjemahkan gerak hidup dari naluri kehidupan ke dalam bahasa visual. Bahasa visual yang dia gunakan berpijak pada gagasan yang disebutnya Plural Painting. Artinya, untuk untuk menampilkan idiom-idiom agar relatif dapat mencapai ketepatan dengan apa yang telah tertangkap oleh intuisi, maka dipergunakan idiom-idiom yang bersifat: Multi-etnis, multi-teknik, atau multi-style. Baca lebih lanjut