Peta Potensi Kesenian Tulungagung

Kabupaten Tulungagung identik dengan nama ketoprak Siswo Budoyo yang legendaris itu. Tapi itu dulu, sekarang Tulungagung sudah tak punya ketoprak itu lagi, meski ketoprak dengan nama yang sama sekarang pentas rutin dan menempati salah satu gedung di kompleks THR Surabaya, yang dipimpin Rahman Sam. Baca lebih lanjut

Peta Potensi Kesenian Trenggalek

Kesenian Trenggalek yang terkenal adalah Jaranan, yang terdapat pada semua (14) kecamatan yang ada di kabupaten Trenggalek. Bahkan pada masing-masing kecamatan terdapat sekitar 20-30 organisasi Jaranan, menyebar pada 159 desa. Diantara jenis Jaranan yang populer antara lain: Jaranan Senterewe, Turonggo Yakso, Jaranan Pegon, Jaranan Breng, dan Jaranan Campursari. Dibanding Tulungagung, keberadaan Jaranan di Trenggalek lebih bagus. Setidaknya selama 8 (delapan) tahun terakhir ini Festival Jaranan diselenggarakan tiap tahun, pada bulan Agustus (biasanya tanggal 25-29), berlangsung selama 3 (tiga) malam. Baca lebih lanjut

Dualisme Kesenian dan Asimilasi Kesenian

Peta perkembangan kesenian Jawa Timur dari dulu hingga saat ini menuju pola yang menarik yaitu di satu sisi muncul pola dualisme antara kesenian tradisional atau kesenian rakyat dan kesenian modern. Di sisi lain ada pula pola kesenian modern yang mengambil dasar kesenian rakyat atau tradisional. Dualisme dalam konsep ini seperti yang ditulis oleh Boeke yaitu dua jenis kesenian yang berkembang secara sendiri-sendiri, tidak saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga tidak pernah bertemu. Dua jenis kesenian ini seperti sepasang rel kereta api, selalu sejajar, tetapi tidak pernah bertemu dalam satu titik. Baca lebih lanjut

Budaya Indigeneous dalam Kesenian

Format penting kebudayaan dan kesenian Jawa Timur adalah berkembangnya apa yang disebut sebagai budaya indigeneous (BI). BI berkembang secara gradual sebagai sinkretis antara nilai adat, hukum adat, sistem pertanian tradisonal, dan sistem keagamaan baik dari Timur Tengah, Jepang, China, dan India. Di samping itu BI bertumpuh kuat dari berbagai varian, yaitu varian sinkretis antara nilai animesme-dinamisme dan hindu-budha, animesme-dinamisme dan Islam (konon melahirkan berbagai varian aliran keagamaan). Fenomena budaya ini mempengaruhi sistem sosial dan format teritori sistem pertanian sehingga melahirkan gejala Pandalungan (daerah pesisir laut Jawa dengan komunitas Islam, nelayan, pedagang, dengan bahasa dipengaruhi bahasa Madura), Mataraman (komunitas yang tinggal di pedalaman Jawa Timur, beragama Islam, tetapi dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya kerajaan Mataram, bertani), varian Tengger, Keling, dan Arek Baca lebih lanjut

Peranan Interaksi Sosial dalam Kesenian

Interaksi antara seniman Jawa Timur dengan seniman Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan kota lainnya berpengaruh pula terhadap perkembangan kesenian modern di Jawa Timur. Menurut Rudi Isbandi, salah satu penyebab seni rupa Jawa Timur bercorak dan bergaya beragam adalah seringnya interaksi sosial antara seniman Jawa Timur dengan di luar Jawa Timur. Begitu pula pola hubungan antara seniman di kota atau kabupaten satu dengan kabupaten lainnya berpengaruh terhadap perkembangan kesenian modern di Jawa Timur. Akibat interaksi sosial para seniman di Jawa Timur itulah menyebabkan kantong kantong seni rupa dan kesenian lainnya di daerah berkembang. Beberapa kota dan kabupaten yang berkembang setelah “bersentuhan” dengan seniman Surabaya dan nasional adalah Kabupaten Banyuwangi, Malang, Madiun, Tuban, Lamongan, Tulungagung, dan Gresik. Baca lebih lanjut

Peranan Media Massa dalam Kesenian

Media massa, baik elektronika maupun cetak, juga menjadi pusat penyebaran nilai seni modern di Jawa Timur. Lewat media massa itulah para seniman Jawa Timur saling berkomunikasi, saling berdiskusi, saling berapresiasi, berekspresi, dan mengetahui perkembangan setiap seniman, sanggar, kelompok, dan berbagai pemikiran yang muncul di Jawa Timur. Di Jawa Timur, khususnya di Surabaya, ditahun 1970-an muncul Mingguan Memorandum. Media cetak Mingguan Memorandum merupakan mingguan yang kritis terhadap negara, dimaksudkan sebagai media kontrol sosial bagi kalangan intelektual Surabaya dan Jawa Timur. Di dalam mingguan ini ada rubrik kesenian dan budaya yang aktif memberi ruang terhadap artikel seni, berita seni, cerita pendek, dan puisi seniman Jawa Timur dan nasional. Baca lebih lanjut

Sepuluh Wilayah Kebudayaan

Kesenian tradisional (rakyat) di Jawa Timur sangat beragam. Menurut Ayu Sutarto, seorang antropolog Universitas Negeri Jember, menganggap wilayah Jawa Timur secara kultural bisa dibagi dalam 10 wilayah kebudayaan yaitu kebudayaan Jawa Mataraman, Jawa Panaragan, Arek, Samin (Sedulur Sikep), Tengger, Osing (Using), Pandalungan, Madura Pulau, Madura Bawean, dan Madura Kengean (Ayu Sutarto dan Setyo Yuwono Sudikan, 2004). Baca lebih lanjut