Orasis Art Gallery Lembaga Peduli Seni Budaya

01a
Diantara sejumlah galeri seni rupa yang timbul tenggelam di Surabaya, Orasis Art Gallery adalah yang bertahan hingga menginjak tahun ke 10. Atas peran sertanya dalam kepedulian perkembangan seni budaya, Gubernur Jatim memberikan Penghargaan dalam peringatan HUT Provinsi Jatim ke 70 Senin lalu (12/10) kepada galeri milik Elizabeth Yuliawati ini.

Galeri ini diresmikan tahun 2005, yang merupakan metamorphosis dari Pelangi Nusantara Art Gallery yang berdiri 20 September 2002. Usia ini hanya sanggup dibarengi oleh Emmitan Gallery yang kurang lebih sama tahun berdirinya.
Bangunan galeri Orasis merupakan gabungan dua buah ruko yang terdiri dari tiga lantai dengan ruang pamer seluas sekitar 675 m2. Kelahiran galeri ini tak lepas dari kecintaan Elizabeth Yuliawati, yang memiliki hobi pada seni lukis, yang kemudian berlanjut ketika bertemu almarhum suami (Bambang Wijaya-red) yang sama-sama pecinta seni. Baca lebih lanjut

J.F.X. Hoery: Daya Tarik Sastra Jawa Lebih Kuat

IMG_0333
Dikenal sebagai sastrawan Jawa, sesungguhnya JFX Hoery tidak sesempit itu dunianya. Sejak pindah ke Bojonegoro tahun 1962 dan menetap di sana hingga sekarang, Hoery adalah motor penggerak berbagai kegiatan seni budaya. Atas jasa, prestasi dan dedikasinya itulah Gubernur Jatim memberikan penghargaan pada HUT Provinsi Jatim Senin lalu (12/10).

Sebagai penulis, sebagian besar karyanya memang ditulis dalam bahasa Jawa, berupa ceritera pendek, cerita bersambung, cerita rakyat, cerita misteri, roman sejarah, reportase dan geguritan banyak dimuat di majalah-majalah berbahasa Jawa yang terbit dari tahun 1971 hingga sekarang. Tulisan pertamanya yang dimuat di majalah dimuat tahun 1960 dalam majalah Taman Putra Panyebar Semangat. Baca lebih lanjut

Teguh Santosa (alm), Komikus Jatim Tiada Tanding

088
Bagi mereka yang pernah mengalami masa kejayaan komik, pasti kenal dengan nama Teguh Santosa. Karyanya yang monumental adalah komik roman sejarah yaitu Sandhora, terdiri dari 9 jilid setebal 540 halaman dan telah dicetak ulang sampai 3 kali. Teguh Santosa menggambar komik Sandhora dengan setting serampung perang Diponegoro (1825-1830).
Baca lebih lanjut

Perjalanan Spiritual Wahyu Nugroho

IMG_0296
“Berkesenian adalah salah satu bagian dari perjalanan spiritual,” ujar Wahyu Nugroho, salah satu penerima Penghargaan Gubernur Jawa Timur 2015. Melukis baginya adalah sebuah proses meditasi. Ia merupakan proses pengembaraan intuisi untuk menangkap dan menerjemahkan gerak hidup dari naluri kehidupan ke dalam bahasa visual. Bahasa visual yang dia gunakan berpijak pada gagasan yang disebutnya Plural Painting. Artinya, untuk untuk menampilkan idiom-idiom agar relatif dapat mencapai ketepatan dengan apa yang telah tertangkap oleh intuisi, maka dipergunakan idiom-idiom yang bersifat: Multi-etnis, multi-teknik, atau multi-style. Baca lebih lanjut

Lilis Imarotin, Pembatik, Tuban

Lilis - 1Masih berusia muda, Lilis Imarotin dapat disebut sebagai generasi muda pelestari Batik Gedhog Tuban. Lahir di Tuban tanggal 4 Mei 1996 (baru berumur 18 tahun), Lilis sudah mulai menjadi pembatik sejak kelas 2 Sekolah Dasar (SD) dan menjadi salah satu pembatik andalan UKM Batik Tulis Tenun Gedhog “Sekar Ayu” milik Uswatun Hasanah. Sedemikian trampilnya Lilis mengakrabi desain batik sehingga anak kedua dari tiga bersaudara ini mampu melukis motif batik di atas kain putih tanpa skets awal. Baca lebih lanjut

Ngudi Rahardjo, Pelukis, Jombang

NgudiLahir di Bojonegoro 24 Agustus 1948, Ngudi Rahardjo telah berpulang ke hadirat Illahi tanggal 3 Mei 2013, baru setahun yang lalu. Semasa hidupnya almarhum dikenal sebagai pelukis realis yang laris manis. Pemandangan sawah dan alam pedesaan, buah-buahan serta burung-burung hingga perahu-perahu di pantai merupakan objek lukisannya yang banyak digemari. Kesuksesannya sebagai pelukis yang laris itulah yang kemudian menjadi idola pelukis-pelukis muda. Jujur saja, mereka sepertinya iri, bagaimana caranya kok karya-karya Ngudi Rahardjo bisa disukai pasar.
Baca lebih lanjut

Asri Nugroho Nus Pakurimba

asri nugroho - 2Belasan tahun menjadi tukang gambar poster bioskop, Asri Nugroho akhirnya berhasil menapakkan dirinya sebagai pelukis yang mapan di negeri ini. Lelaki kelahiran Surabaya 4 Juli 1952 ini telah melewati proses teramat panjang, sampai akhirnya memenangi penghargaan bergengsi “The Philip Morris Group of Companies” Indonesia Art Award (1994).

Sudah sejak lama anak seorang tentara ini tak hendak menyerahkan nasibnya hanya menjadi tukang poster bioskop. di sela-sela kesibukannya, dia memanfaatkan peluang untuk menawarkan lukisan hasil ciptaannya. Baru tahun 1989 dalam perjalanannya ke Bali bersama Setyoko, teman sesama pelukis, Asri Nugroho berhasil menjual sebuah lukisan kepada pemilik Galeri Barwo. Sejak itulah, jebolan Sekolah Menengah Atas Negeri Nganjuk tahun 1970 ini setiap dua bulan sekali berkunjung ke Bali untuk menawarkan lukisannya, hingga membuahkan harga pantas dan menemukan jati diri sebagai seniman. Baca lebih lanjut