HASNAN SINGODIMAYAN: Budayawan, Banyuwangi

Disamping Hasan Ali, nama Hasnan Singodimayan dikenal sebagai pejuang yang gigih kebudayaan Using di Banyuwangi. Dia banyak aktif dalam sastra, seperti menulis cerpen, esai dan pernah menjadi redaktur di majalah Tanah Air dan Trompet Masyarakat. Cerpennya yang berjudul “Lailatul Qadar” menjadi pemenang III Lomba Cerpen oleh Dewan Kesenian Surabaya (1973), pemenang Runner Up lomba puisi oleh BBC London (1980), juga pernah menjadi pemenang penulisan Kisah Kepahlawanan oleh Angkatan 45 Pusat yang kemudian diterbitkan Balai Pustaka. Disamping itu Hasnan juga menulis novelet di Bali Post dan (ini yang penting) menulis naskah sandiwara radio berbahasa Using. Baca lebih lanjut

Iklan

EMHA AINUN NAJIB: Budayawan, Jombang/Yogyakarta

Sulit sekali meyakinkan bahwa Emha Ainun Najib memang layak menerima penghargaan dari pemerintah propinsi Jawa Timur kali ini. “Saya sudah out of context,” ujarnya ketika ditemui di Yogyakarta. Dunia seni yang sudah digeluti puluhan tahun dengan sekian banyak karya, toh Emha masih merasa risi disebut seniman. Pikiran-pikirannya cenderung orisinal, penuh retorika dan seringkali “nakal”. Tidak heran jika dia berada dalam posisi dikagumi banyak orang sekaligus tidak disukai orang-orang tertentu. Baca lebih lanjut

ARIBOWO: Penggerak Kesenian, Surabaya

Ketika terpilih menjadi ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) tahun 1993, banyak orang meragukan kesenimanannya. Meski ketua DKS tidak diharuskan seorang seniman, sebetulnya Aribowo bukan orang yang asing dengan kesenian. Ketika masih SMA, sudah bergabung dalam LIA Painting Circle pimpinan Krishna Mustadjab, menulis cerpen dan esai sastra di Harian Bhirawa, dimana Suripan Sadihutomo menjadi pengasuh budayanya. Sejumlah karyanya kemudian dimuat di Harian Kompas ketika dia kuliah di Fisipol UGM Yogyakarta. Baca lebih lanjut

DAHLAN ISKAN (pengusaha, pecinta seni)

Apa yang menarik sehingga seorang Dahlan Iskan perlu mendapat penghargaan khusus? Bahwasanya kesenian memang tak akan bisa berkembang dengan baik kalau hanya menggantungkan peran seniman. Harus ada pihak lain yang memiliki perhatian besar dan dana yang memadai sehingga kesenian dapat berkembang sebagaimana mustinya. Harus diakui, bahwa kesenian dapat berkembang ketika ada peran maecenas. Pada peran yang disebutkan seperti itulah maka kiprah bos Grup Jawa Pos ini patut mendapat penghargaan. Baca lebih lanjut

GATUT KUSUMO HADI (Budayawan, Surabaya)

Semasa hidupnya, mantan tentara TRIP ini dikenal sebagai budayawan yang akrab dengan anak-anak muda dan mereka yang berpikiran revolusioner. Mereka lebih akrab memanggilnya Papa (dan Mama kepada istrinya, Thea Kusuma), yang menyiratkan kekaguman sekaligus posisinya sebagai patron ideologis. Lelaki kutu buku ini bagaikan kamus hidup yang siap menjawab pertanyaan apapun. Baca lebih lanjut

Direktori Aktivis Kesenian dan Budayawan

Abdul Fatah, SH. Aktivis Kesenian, Surabaya. Ttl: Surabaya, 16 Desember 1970. Swasta. S-1. Aktivitas: Tari kolosal perang bubat 1993, Tari Modern Citra Kasih Anak Negri 1989. Prestasi: Juara II puisi bahasa Jerman SMA Surabaya 1989. Organisasi: Unitantri, Unit Karawitan Seni & Tari Malang. Bengkel Muda Surabaya. Alamat: Jl. Purwodadi I/92, Surabaya. 031 – 3526404, 8492378 Baca lebih lanjut