Orasi Budaya di GNI, PPLH dan Jalatunda


SURABAYA: Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur dengan cara menggelar acara yang dinamakan “Orasi Budaya” di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman dan kawasan Candi Jalatunda. Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, akan menyampaikan orasi budaya di GNI hari Jum’at pagi (20/5). Baca lebih lanjut

Iklan

Banyak Peran Dimainkan Trisnawati

IMG_0306
Salah satu penerima penghargaan Gubernur Jatim 2015 adalah Trisnawati dari Situbondo. Meski di kotanya sendiri tidak banyak dikenal, namun namanya sudah dihapal banyak kalangan sebagai seniwati handal yang serba bisa. Tapi yang mengagumkan adalah, dialah yang menciptakan tari Remong (Remo) dengan gayanya sendiri.

Trisnawati sejak berumur 6 tahun telah terbiasa dengan aktivitas berkesenian. Dikarenakan ayah, ibu dan kakeknya merupakan seniman. Mulai tahun 1923 – 1953 kakek Trisnawati mempunyai ludruk gangsing “Eka Budaya” yang berkembang pesat di wilayah Karesidenan Besuki. Trisnawati lahir dari pasangan Pardi dan Suprapti yang juga sebagai seniman di ludruk gangsing “Eka Budaya” yang keliling dari satu tempat ke tempat lain.
Baca lebih lanjut

Dedikasi Djati Kusumo Tak Pernah Surut

0011
Pernah dikenal sebagai pelawak dan anggota DPR RI, sesungguhnya Djati Kusumo adalah seorang budayawan yang memiliki dedikasi luar biasa. Ketika itu, Djati masih menjadi PNS di Kantor Departemen Penerangan Kota Malang (1973-1987). Toh posisi nyaman sebagai PNS itu ditinggalkannya karena gerah dengan iklim monoloyalitas pegawai negeri yang harus menjadi anggota Golkar. Padahal, Djati sempat terpilih dalam 10 besar Karyawan Prestasi Nasional di lingkungan kerjanya. Alasannya adalah “… Orba kakinya tiga (Golkar-PDI-PPP), patah satu pasti tumbang.” Baca lebih lanjut

Oong Fathorrochman: Menjadikan Manusia Seutuhnya

0
Salah satu dari 15 seniman penerima Penghargaan Gubernur Jatim 2015 adalah Oong Fathorrochman. Nama aslinya Fathorrochman Achmad, dikenal sebagai seniman Teater yang cukup lengkap. Selain menggagas dan sebagai kreator, juga melakukan pembinaan terhadap anak-anak hingga mampu menyelesaikan studinya. Oong terlahir tahun 1965 (50 tahun), namun raut wajahnya terlihat melebihi usianya. Aktivitas teater yang dilakukannya di Bengkel Teater Rendra menjadi bekal baginya untuk memberikan pemahaman mendasar berteater sehingga seseorang tidak saja mampu bermain, tetapi juga mampu menghadapi kenyataan hidup, bersikap positif, memiliki ketaatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Baca lebih lanjut

Mata Air Kebudayaan S. Jai

IMG_0283
Penampilannya yang kalem ternyata tidak menyembunyikan aktivitasnya yang luar biasa dalam tulis menulis dan kesenian. Nama populernya S. Jai (dia rahasiakan nama aslinya), pernah menjadi wartawan di Tabloid Oposisi, Surya dan Duta Masyarakat, toh langkahnya kemudian mantap sebagai penulis dan aktivis sosial budaya. Ratusan tulisan sudah dihasilkannya, termasuk belasan novel, puisi, cerpen, menulis naskah drama dan artikel di berbagai penerbitan. Puncak-puncak dari kegiatan sastra ditunjukkannya dengan mempublikasikan sejumlah karya novel, serta beberapa penghargaan yang diterimanya. Yang terbaru, penghargaan Gubernur Jatim yang diberikan bersama dengan 15 seniman budayawan lainnya.
Baca lebih lanjut

Turangga Yaksa Lahir dari Tangan Pamrih

03 - Pamrih - 1
Pamrih itu nama orang. Nama aslinya Pamrianto. Dialah yang berjasa atas lahirnya seni tari jaranan Turangga Yaksa yang menjadi terkenal sekarang ini. Maka sudah sepantasnyalah Gubernur Jawa Timur memberikan Penghargaan khusus dari 15 seniman budayawan lainnya, Senin lalu (12/10). Baca lebih lanjut

Perjalanan Spiritual Wahyu Nugroho

IMG_0296
“Berkesenian adalah salah satu bagian dari perjalanan spiritual,” ujar Wahyu Nugroho, salah satu penerima Penghargaan Gubernur Jawa Timur 2015. Melukis baginya adalah sebuah proses meditasi. Ia merupakan proses pengembaraan intuisi untuk menangkap dan menerjemahkan gerak hidup dari naluri kehidupan ke dalam bahasa visual. Bahasa visual yang dia gunakan berpijak pada gagasan yang disebutnya Plural Painting. Artinya, untuk untuk menampilkan idiom-idiom agar relatif dapat mencapai ketepatan dengan apa yang telah tertangkap oleh intuisi, maka dipergunakan idiom-idiom yang bersifat: Multi-etnis, multi-teknik, atau multi-style. Baca lebih lanjut